Disebut Tertekan China, Bantahan Trump Picu Kekhawatiran Baru

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sesumbar dan membantah bahwa dirinya tidak memiliki tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China. Sikapnya ini diperlihatkan hanya sehari setelah pejabat pemerintahannya mengundang China mengadakan putaran baru diskusi perdagangan.
Renat Sofie Andriani | 14 September 2018 08:36 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersumbar tidak memiliki tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China. Sikapnya ini diperlihatkan hanya sehari setelah pejabat pemerintahannya mengundang China mengadakan putaran baru diskusi perdagangan.

Dalam cuitannya di Twitter pada Kamis (13/9/2018), Trump menunjukkan tekad kuat untuk memasuki negosiasi. Namun pada saat yang sama perkataannya berisiko memicu kekhawatiran Tiongkok bahwa ia belum serius untuk mencapai kesepakatan.

Cuitan Trump muncul untuk membantah tulisan Wall Street Journal tentang diskusi perdagangan yang akan datang antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Disebutkan, Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan dengan China serta mengakhiri retaliasi Tiongkok terhadap eksportir AS menjelang pemilihan paruh waktu yang akan berlangsung November.

“The Wall Street Journal salah, kami tidak memiliki tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China, merekalah yang berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami,” cuit Trump, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Pasar kami melonjak, mereka ambruk. Kami akan segera menerima miliaran dalam tarif & membuat produk-produk sendiri. Jika kita bertemu, kapan saja bisa bertemu?”

Pasar ekuitas AS mengikis kenaikan sebelumnya pascacuitan Trump, meskipun penguatan dalam sektor teknologi informasi dan perawatan kesehatan mendorong saham lebih tinggi. Di sisi lain dolar AS naik, saat pedagang menjual dolar Australia karena hubungan ekonomi negara itu dengan China.

Komentar Trump menekan optimisme pasar yang sebelumnya didosong usulan pemerintah AS untuk mengadakan putaran baru pembicaraan perdagangan dengan China. Sentimen positif ini mendongkrak bursa saham AS dan aset-aset pasar negara berkembang.

Tekanan Berlawanan

Pejabat China diketahui sensitif terhadap potensi tekanan yang berlawan dari Trump menjelang pemilihan kongres pada November.

Sikap keras tentang perdagangan bergema didukung basis pekerja di kawasan industri Great Lakes. Sebaliknya, kekhawatiran akan pembalasan China mengkhawatirkan konstituen Republik, termasuk negara-negara bagian yang memiliki wilayah pertanian.

Kegagalan untuk memulai perundingan baru akan menimbulkan kekhawatiran bahwa kedua negara ditakdirkan mengalami perang dagang yang panjang dan penuh tekanan.

Pada Kamis (13/9), sebelum Trump mencuit, juru bicara kementerian perdagangan China Gao Feng mengatakan bahwa China telah menerima undangan AS dan sedang mengupayakan perincian pertemuan itu dengan AS.

Gedung Putih telah berupaya menekan pemerintah China untuk mengurangi surplus perdagangannya dengan AS serta melindungi hak kekayaan intelektual perusahaan AS. Pemerintahan Trump sebelumnya telah memberlakukan bea masuk terhadap ekspor China senilai US$50 miliar sejak Juli, yang memicu pembalasan langsung dari China.

"Kami sedang berkomunikasi sekarang dan bisa dikatakan bahwa komunikasi ini telah berkembang," kata Larry Kudlow, direktur Dewan Ekonomi Nasional, yang mengonfirmasikan kabar tentang tawaran diskusi AS.

Tag : perang dagang AS vs China, Donald Trump
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top