Tahun Baru 1440 Hijriyah : Ritual Hijrah

Bulan ini adalah Dzulhijjah. Bulan ketika umat Islam menunaikan Ibadah haji. Setelah ujung Dzulhijjah, datanglah tahun baru 1440 Hijriyah. Tarikh ini dimulai dari tahun ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Fatkhul Maskur | 10 September 2018 17:00 WIB
Bulan sabit tanda bulan baru - Flickr

Bulan ini adalah Dzulhijjah. Bulan ketika umat Islam menunaikan Ibadah haji. Setelah ujung Dzulhijjah, datanglah tahun baru 1440 Hijriyah. Hijriyah terkait dengan kata hijrah. Artinya meninggalkan atau berpindah. Tarikh ini dimulai dari tahun ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Meski tak digunakan sebagai sebagai penanggalan resmi pemerintah, tentu saja kalender Hijriah ini penting dan diakui. Selain awal tahun yang ditetapkan sebagai hari libur, geliat dan siklus ekonomi juga banyak mengikuti penanggalan ini.

Ramadan, misalnya. Ini adalah bulan saat perekonomian terangkat. Masyarakat banyak belanja. Dana tunjangan hari raya pun dibayar pada bulan ini.Tak hanya pedagang yang bergembira, industri kecil hingga dealer otomotif bersuka cita menyambut panen di bulan ini. Pemerintah pun tertolong dalam menggapai target angka pertumbuhan ekonomi.

Setelah Syawal dengan hari raya Idulfitri, dua bulan selanjutnya ada Iduladha. Kini giliran peternak dan pedagang ternak yang meraup berkah. Di sisi lain, masyakarat yang kerap dibuat gaduh lantaran harga daging melambung menjadi bisa menikmati sumber protein hewani secara gratis.

Tak hanya soal daging, pada bulan Dzulhijjah ini maskapai penerbangan bisa kenyang menikmati okupansi pesawatnya. Di musim tahun ini saja, jemaah haji Indonesia mencapai 221.000 orang. Ini belum termasuk petugasnya. Ini 14 kali lipat jumlah atlet dan official Asian Games 2018.

Perbankan juga mendapatkan dana supermurah dari setoran uang biaya haji. Dalam jangka waktu lama, bisa bertahun-tahun, dan sangat tipis kemungkinan ditarik lagi. Akhir 2017, diperkirakan total dana haji mencapai Rp100 triliun.

Jemaah juga membawa berkah bagi usaha terkait pelayanan haji, seperti jasa bimbingan sebelum berangkat, katering, penginapan, hingga jasa angkutan antar-jemput.

Selain Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, tentu bulan-bulan lain di kalender Hijriyah juga memiliki momentum ekonomi yang menarik untuk dicermati.Terlebih apabila membaca penanggalan Jawa—-tarikh yang dibuat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Kesultanan Mataram.

Penanggalan Jawa adalah sistem kalender yang berbasis tarikh Hijriah, dengan memadukan sejumlah fitur pada sistem penanggalan Saka (Hindu), dan sedikit penanggalan Julian (Barat).Ini adalah kalender qomariah atau lunar yang berbasis perputaran bulan, namun melanjutkan angka tahun Saka.

Kalender Jawa memakai dua siklus hari, yakni mingguan yang terdiri dari 7 hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Tidak mengherankan, di beberapa daerah, perputaran uang meninggi dalam 5 hari sekali.

Penanggalan Hijriyah Jawa juga menyematkan fitur pranata mangsa yang dikaitkan dengan aktivitas pertanian, khususnya untuk kepentingan perencanaan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Kapan paceklik, kapan panen.

Fitur lainnya adalah windu. Apabila pranata mangsa berjangka pendek, siklus windu untuk perencanaan 8 tahunan. Meski tidak secara resmi, Presiden Soeharto menggunakan kalender ini untuk memperkuat pengambilan keputusan kebijakan APBN maupun manajemen Bulog.

Bisa jadi lantaran itu pula, era pemerintah Presiden Soeharto Indonesia mampu berswasembada beras, tidak seperti era sekarang yang gemar impor. Dan, lantaran itu pula Presiden Soeharto sering dijuluki sebagai Raja Jawa Paling Lama Berkuasa.

Penanggalan bukan sekadar pusaka yang setahun sekali dijamas dan berganti. Kalender adalah salah satu bukti pencapaian tertinggi peradaban. Sebuah bangsa disebut berperadaban tinggi bila mana mampu melahirkan penanggalannya.

Dengan penanggalan itu pula, mereka berusaha membuka masa depan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Waktu adalah karunia paling berharga.Waktu adalah bagian dari struktur dasar semesta, sebuah dimensi di mana peristiwa terjadi berurutan dari masa lalu melalui masa kini menuju masa depan.

Terkait dengan waktu, banyak literatur menyebut setidaknya ada tiga level keadaan manusia : beruntung, merugi, dan celaka. Beruntung apabila masa kini lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Merugi jika masa kini sama dengan masa lalu. Celaka atau bangkrut apabila sekarang ini lebih buruk dari masa sebelumnya.

Beberapa hari lagi, kalender Hijriyah dan penanggalan Jawa akan memasuki tahun baru. Di malam 1 Syuro akan ada banyak yang melakukan ritual : jamas keris dan pusaka, kumkum di sungai, mandi kembang, semedi, tahlilan di mesjid, hingga sholat malam.

Ritual itu mirip kebiasaan melihat kaca spion mobil sebelum kita menginjak pedal gas. Mengumpulkan kenangan dan mengambil hikmah dari masa lalu dengan harapan lebih baik di masa mendatang. Selamat menyongsong Tahun Baru. Selamat hijrah. Selamat ngalih. (*)

Tag : Tahun Baru Islam
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top