Turki Abaikan Peringatan AS soal Perdagangan dengan Iran

Turki menyatakan pihaknya akan tetap melanjutkan pembelian gas alam dari Iran sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam siapapun yang berdagang dengan Iran tidak akan dapat berbisnis dengan AS.
John Andhi Oktaveri | 09 Agustus 2018 08:49 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak - Reuters/Ernest Scheyder

Kabar24.com, JAKARTA- Turki menyatakan pihaknya akan tetap melanjutkan pembelian gas alam dari Iran sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam siapapun yang berdagang dengan Iran tidak akan dapat berbisnis dengan AS.

Menteri Energi Turki, Fatih Donmez mengatakan Ankara akan terus melakukan pembelian gas dari Iran sejalan dengan kesepakatan jangka panjang dengan Teheran. Kebijakan itu dilakukan meski Amerika Serikat memberlakukan kembali sanksi.

"Kami akan melanjutkan perdagangan ini karena kami tidak mungkin membiarkan warga kami hidup dalam kegelapan," kata Menteri Donmez seperti dilaporkan BBC.com, Kamis (9/8).

"Kami menerapkan sanksi PBB terhadap Iran di masa lalu. (Sekarang), bahkan Uni Eropa sangat terganggu dengan keadaan saat ini. Kami melakukan perdagangan yang sah (dengan Iran), yang sangat penting terkait dengan keamanan pasokan," tambahnya.

Tetapi dia juga mengatakan perundingan yang dijadwalkan akan dilangsungkan di Washington kemungkinan dapat membantu ditemukannya jalan keluar untuk mengatasi persoalan tersebut.

Menurut Reuters, dalam sebuah wawancara dengan media A Haber, Donmez mengatakan kontrak jangka panjang Turki dengan Iran berupa pasokan sebesar 9,5 miliar meter kubik dan berlaku sampai tahun 2026.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan AS tidak akan dapat mencegah negaranya mengekspor minyak.

Dia mengatakan kepada suratkabar Iran bahwa rencana Washington untuk mengurangi ekspor minyak Iran sampai ke angka 0 adalah terlalu menyederhanakan masalah dan tidak mungkin terjadi. 

Teheran juga berharap Trump tidak akan didukung dunia untuk membuat sanksi tersebut berlaku, berbeda dengan pendahulunya Presiden Obama.

"Ada perbedaan besar saat ini, sebelumnya tidak seorangpun mendukung Iran. Tetapi sekarang semua negara di dunia mendukung Iran. Amerika Serikat selalu berubah-ubah, sehingga sekarang tidak seorangpun mempercayainya," kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif kepada wartawan.

Selain Turki, India dan Cina sudah menyatakan tidak akan memangkas pembelian minyak dari Iran secara signifikan. Lebih dari 25% impor Iran dan 19,7% dari ekspornya sejak bulan Maret, berasal dari China.

Pada Selasa lalu,  Presiden Trump melontarkan peringatan keras kepada siapa pun yang melakukan perdagangan dengan Iran, menyusul pemberlakuan kembali sanksi terhadap negara tersebut.

"Siapa pun yang melakukan bisnis dengan Iran Tidak akan melakukan bisnis dengan Amerika Serikat," ujar presiden AS tersebut.

Sejumlah sanksi telah berlaku, sedangkan sanksi yang lebih keras berkaitan dengan ekspor minyak akan mulai berlaku pada bulan November.

Tag : iran, krisis turki
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top