Perempuan dan Diplomasi, Ini Pesan dari Menlu Retno Marsudi

Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia Retno Marsudi mengatakan diplomasi tidak semata-mata merupakan urusan kaum laki-laki.
Rahmad Fauzan | 14 Juli 2018 16:22 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) menyentuhkan polpoin bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat menandatangani buku "Road to Africa" di sela Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/4/2018). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, Bandung -- Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia Retno Marsudi mengatakan diplomasi tidak semata-mata merupakan urusan kaum laki-laki.

"Perempuan, saya bicara mengenai diplomasi dan perempuan. Jadi, sudah sekitar 15 tahun yang lalu kalau kita melihat rekruitmen yang ada di Kemenlu, maka 50% anak-anak baru adalah perempuan," ujar Retno dalam acara bertajuk Talk with #MenluRetno di Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), Bandung.

Retno Marsudi juga menilai bahwa urusan diplomatik yang mengharuskan seseorang untuk memiliki mobilitas tinggi, dengan demikian bukan berarti kaum perempuan tidak memiliki kapasitas untuk berada di level tersebut.

"Ada yang bilang bahwa diplomasi itu identik sebagai urusan laki-laki, ada benarnya. Karena kan pekerjaan kita itu 24/7. Kemudian mobilitas, perempuan punya suami, perempuan punya anak, dan dengan mobilitas seperti itu, kayaknya tidak cocok. Namun, ternyata cocok juga. Bisa kok survive," tuturnya di depan para peserta acara yang hadir.

Retno Marsudi berpesan kepada kaum perempuan, meskipun profesionalisme menuntut kinerja logika, tetapi jangan sampai meninggalkan hati.

"Logika bisa disatukan dengan hati. Jangan lupa, diplomasi is about heart. Hati tidak akan berbohong," ujarnya disertai dengan tepuk tangan dari peserta.

Seperti diketahui, sebelum mengisi acara di MKAA, Menteri Retno Marsudi menghadiri serta meresmikan sebuah jembatan di Desa Cibunar, yang menghubungkan antara kecamatan Tarogong Kidul dan Cilauk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jembatan tersebut, atau yang secara resmi dinamakan dengan "Jembatan Diplomasi", melintasi Sungai Cimanuk yang pada 2016 lalu sempat meluap dan membanjiri wilayah di sekitarnya sehingga mengakibatkan puluhan orang kehilangan nyawa.

Tidak terlepas dari bencana tersebut, dalam kata sambutannya, Retno Marsudi mengatakan peresmian "Jembatan Diplomasi" tidak terlepas dari perihal kemanusiaan.

"Ini adalah masalah kemanusiaan, dan masalah kemanusiaan ini tidak punya batas," ucap Retno.

Dengan demikian, lanjutnya, meskipun berprofesi sebagai diplomat yang identik dengan urusan luar negeri, tetapi kepedulian terhadap masalah kemanusiaan harus tetap dijaga

"Dalam artian, siapa yang bisa membantu, harus membantu. Walaupun profesi kami adalah diplomat, tetapi kepedulian kami harus tetap kami jaga," tegas Retno.

Adapun, dalam kesempatan bertajuk "Peresmian Jembatan Diplomasi: Penghubung Silaturahmi Monumen Persahabatan dan Perdamaian Desa Cibunar, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut" tersebut, Bupati Garut Rudy Gunawan juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan hubungan luar negeri antara Kabupaten Garut dan Jepang.

"Garut itu kemaren adalah kabupaten yang berhubungan baik dengan Jepang.
Kami menerima bantuan untuk pemadam kebakaran. Garut itu luasnya enam kali DKI Jakarta, 80 kali Kota Solo. Karena begitu luas kami mohon dibantu oleh Kementerian Luar Negeri, karena sekarang agak terhambat," tutur Rudy Gunawan.

Rudy mengatakan terdapat aturan baru di Kementerian Luar Negeri, dimana untuk menjalin hubungan antara Pemerintah Daerah dengan negara lain, harus mendapatkan rekomendasi dari kedutaan-kedutaan besar.

"Ada aturan baru di Kementerian Luar Negeri, dimana untuk menjalin hubungan antara Pemerintah Daerah dengan negara lain, harus mendapatkan rekomendasi dari kedutaan-kedutaan besar," ujarnya.

Tag : diplomasi, retno l.p. marsudi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top