PEMBERDAYAAN DIFABEL Lewat Secangkir Kopi Kesetaraan

Delapan peserta dari penyandang disabilitas juga perwakilan organisasi lainnya seperti korban pelanggaran HAM terlibat pelatihan barista inklusi.
Fahmi Ahmad Burhan | 04 Juli 2018 08:35 WIB
Penyandang disabilitas Eko Sugeng sedang membuat kopi di Warung Kopi Cupable pada Selasa (3/7 - 2018).

Bisnis.com, SLEMAN — Para penyandang disabilitas tak pasrah akan keadaan, tak mengharapkan iba, hanya mengharap apresiasi atas kerja keras.

Lewat pelatihan barista inklusi, mereka mencoba peruntungan menjadi barista handal, meskipun dengan kondisi keterbatasan.

Aroma kopi terasa di seisi ruangan, bunyi mesin penggiling kopi bersahutan, berjejer toples berisi beragam jenis kopi mulai dari kopi gayo sampai kopi dampit yang akan dipilih oleh barista.

Cangkir siap menampung kopi robusta dampit dari grinder. Ketika aliran kopi keluar, aromanya mewangi menambah selera. Tak lupa, sang barista menyiapkan kocokan susu yang langsung dialirkan ke atas cangkir berisi kopi seperempat gelas.

Sebuah sajian capucino dari kopi robusta dampit siap dinikmati pelanggan yang sudah menunggu di sudut ruangan. Sajian nikmat di pagi hari itu dipersembahkan oleh Eko Sugeng, penyandang disabilitas yang kehilangan kedua tangannya pada 2002 karena diamputasi setelah kecelakaan aliran listrik tegangan tinggi.

Eko yang kedua tangannya diamputasi itu terlihat mahir membuat sajian kopi. Ia menggerak-gerakan lengan atasnya mengoperasikan berbagai alat dengan cekatan.

Setahun lalu, eko hanyalah peminum kopi biasa yang sering nongkrong di warung kopi. Namun kini, setelah banyak bersentuhan dengan kopi ia sudah siap melayani pelanggan yang ingin menikmati kopi.

“Favorit saya bikin kopi dengan teknik V60,” kata Eko. Dikala senggang, ia kadang mendatangi beberapa tempat ngopi yang lumayan terkenal di Jogja seperti Warung Kopi Merapi.

Bagi Eko, dua tangan yang tak lagi sempurna bukanlah halangan untuk berkarya. “Saya tertarik jadi barista, karena awalnya senang dengan kopi, sering nongkrong di warung kopi, ketika ada dorongan buat bikin, saya coba saja,” ucap pria asal Kecamatan Kalasan itu.

Saat itu, di 2002 tak ada pilihan lainnya selain kedua tangannya diamputasi. “Saya waktu itu mau membenahi antena, tapi kecelakaan setelah terlilit, dan saat itu tegangannya tinggi, waktu itu enggak ada pilihan lain selain amputasi, karena kondisi tangan saya sudah parah,” ungkap Eko.

Namun kini, ketiadaan kedua tangannya seolah bukanlah masalah, karena seperti masyarakat lainnya, ia bisa beraktivitas normal, bahkan membuat kopi.

Menjadi Barista

Ada sebuah warung kopi dengan nama Cupable di samping Pusat Rehabilitasi Yakkum. Pemilik warung kopi tersebut Banu Subagio mengatakan nama Cupable diambil dari singkatan Cup for Empowering Difable.

Pusat Rehabilitasi Yakkum memang manampung kaum difabel agar bisa mandiri. Di pusat rehabilitasi yang terletak di Jalan Kaliurang, Desa Sukoharjo, Ngaglik itu Eko dan banyak penyandang disabilitas lainnya beraktivitas.

Eko saat di Warung Kopi Cupable juga biasa membuat kopi. Banu memberi tahunya pada tahun lalu agar ia tak sekedar jadi peminum kopi saja, tapi bisa juga membuatnya.

“Kopi ini kan sekarang sudah menjadi gaya hidup, nah kita sekarang coba, agar kopi tidak hanya untuk kalangan tertentu saja, tapi kita coba setara, kita buat agar kopi juga bisa dinikmati bahkan dibuat oleh kaum difabel,” jelas Banu pada (3/7/2018).

Meskipun Eko tak punya tangan yang utuh, namun Banu menyesuaikan alat-alat pembuat kopi agar bisa dioperasikan oleh Eko. Banu berharap agar kaum difabel seperti Eko tidak hanya dikasihani oleh masyarakat saja, tapi juga diapresiasi, karena mereka juga bisa berkarya layaknya masyarakat yang mempunyai fisik sempurna.

Selama sebulan, mulai dari Senin (2/7), di Pusat Rehabilitasi Yakkum dan juga Warung Kopi Cupable diadakan Pelatihan Barista Inklusi. Delapan peserta dari penyandang disabilitas juga perwakilan organisasi lainnya seperti korban pelanggaran HAM terlibat.

Project Manager Program Peduli Pusat Rehabilitasi Yakkum Rani Ayu Hapsari mengatakan tujuan acara tersebut yaitu mengkampanyekan agar penyandang disabilitas bisa diterima juga baik sebagai barista ataupun pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut kopi.

“Kami memilih kopi, karena sekarang kopi sudah menjadi gaya hidup, dan banyak anak muda yang nongkrong di warung kopi, nah kita juga ingin menunjukan bahwa penyandang disabilitas juga bisa masuk ke sana," ujarnya pada JIBI, (3/7/2018).

Rani mengatakan nantinya, setelah digembleng selama sebulan belajar menjadi barista, para peserta akan coba masuk ke warung-warung kopi di Jogja menunjukan keahliannya membuat kopi.

“Kami juga ingin menunjukan penyandang disabilitas juga bisa jadi barista, ada yang kehilangan tangannya, ada juga yang pemakai kursi roda, ataupun kaki palsu, mereka nantinya diharapkan diterima di masyarakat tidak dianggap remeh,” ungkapnya

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Tag : difable, pembangunan inklusif
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top