Sedekade Berlalu, ECB Masih Belum Menaikkan Suku Bunga Acuannya

Sedekade telah berlalu sejak Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga ketika kriris keuangan global mencapai titik puncaknya. Adapun kini, beberapa pelaku pasar keuangan percaya bahwa risiko akan muncul jika pengetatan moneter tidak segera dilakukan.
Dwi Nicken Tari | 03 Juli 2018 19:22 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Kabar24.com, JAKARTA - Sedekade telah berlalu sejak Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga ketika kriris keuangan global mencapai titik puncaknya. Adapun kini, beberapa pelaku pasar keuangan percaya bahwa risiko akan muncul jika pengetatan moneter tidak segera dilakukan.

Pada 3 Juli 2008, ECB menaikkan biaya pinjaman untuk menghadapi inflasi yang melaju dua kali lipat lebih cepat dari target bank sentral.

Pada Oktober, inflasi pun memukul cadangan keuangan Zona Euro karena harga-harga berjatuhan dan pertumbuhan ekonomi  menguap meninggalkan Zona Euro memasuki kondisi darurat ekonomi terparah, sejak masa Depresi Besar.

Kala itu, Presiden ECB  Mario Draghi masih menjabat sebagai pembuat keputusan di Dewan Gubernur  ECB selaku Gubernur Bank Sentral Italia, begitu pula ketika suku bunga ECB kembali dinaikkan tepat sebelum krisis utang Eropa pada 2011.

Mungkin setelah belajar dari dua pengalaman itu, Draghi kini memutuskan untuk mengesampingkan dahulu kenaikan suku bunga hingga setelah musim panas 2019.

Adapun panduan dari Draghi mendapat dukungan dari pasar ketika keputusan itu diumumkan bulan lalu. Pasar menilai langkah yang diambil ECB sangat bijaksana.

Sementara ekonom dan investor yang memperkirakan kenaikan suku bunga ECB pada pertengahan 2019 pun mendorong proyeksi mereka mundur hingga akhir tahun depan. Namun, tidak banyak yang melihat adanya ancaman besar—bahwa ECB menjadi terperangkap dengan suku bunga nol ketika siklus ekonomi dunia mulai berbalik.

“Ada risiko nyata jika ECB tidak juga menaikkan suku bunga,” kata Patrick Artus, Kepala Ekonom Natixis di Paris, Perancis, seperti dikutipBloomberg, Selasa (2/7/2018).

Dia menjelaskan, konsensusnya adalah ECB memang benar namun mereka dapat tertinggal di belakang kurva jika terus berada di level suku bunga nol untuk waktu yang lama.

Adapun alasan ECB untuk tetap menahan suku bunga masih karena tingkat inflasi sekarang sangat berbeda ketimbang sedekade silam. Pada 2009, pertumbuhan harga berada di level 4%.

Sementara kini, tingkat pertumbuhan harga berada di level 2%. Namun, masalahnya adalah perolehan itu sebagian besar didorong oleh harga minyak.

Adapun membaiknya harga minyak telah menekan inflasi Benua Biru. Pasalnya, indikator perhitungan inflasi, yaitu pertumbuhan harga yang mengecualikan harga produk energi dan makanan, berada hanya setengah dari laju tersebut.

Selain itu, Zona Euro kini juga menghadapi permasalahan ancaman dari tensi perang dagang dan populis sementara tingkat upah baru akan naik.

“Mereka sangat berhati-hati sekali karena mereka pernah ‘terbakar’ sebelumnya,” kata Marco Valli, ekonom UniCredit di Milan, Italia.

Dia menambahkan, kondisi saat ini membuat jarak panjang para pembuat kebijakan sangatlah rendah.

Di sisi lain, Zona Euro sekarang telah lebih kuat ketimbang sedekade silam dan tentu lebih mampu menangani suku bunga tinggi.

Kini perangkat penghalang terjadinya krisis baru sudah tersedia dan ECB juga memiliki berbagai pilihan instrumen di tangannya. Selain itu, perbankan Zona Euro pun telah berada di dalam pengawasan ketat bank sentral.

Namun, masih belum ada tanda-tanda lampu hijau akan menyala untuk waktu yang tepat menaikkan suku bunga, bahkan tidak juga di tengah-tengah perkiraan para ahli.

Tag : ecb
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top