Tahu Akan Dibunuh, Jurnalis Rusia Ini Palsukan Kematiannya

Arkady Babchenko, wartawan asal Rusia yang sekarang tinggal di Kiev, Ukraina karena mendapat ancaman pembunuhan, muncul di televisi dengan didampingi aparat keamanan serta intelijen Ukraina.
Annisa Margrit | 31 Mei 2018 01:47 WIB
Jurnalis Rusia, Arkady Babchenko, yang dilaporkan tewas dibunuh menghadiri konferensi pers didampingi jajaran lembaga intelijen Ukraina di Kiev, Ukraina, Rabu (30/5). - Reuters/Valentyn Ogirenko

Bisnis.com, JAKARTA -- Seorang wartawan Rusia, yang dikenal sebagai pengritik Moskow dan disebut-sebut dibunuh di rumahnya, ternyata masih hidup.

Arkady Babchenko, wartawan asal Rusia yang sekarang tinggal di Kiev, Ukraina karena mendapat ancaman pembunuhan, muncul di televisi dengan didampingi aparat keamanan serta intelijen Ukraina.

Reuters melansir Rabu (30/5/3018), Babchenko mengungkapkan dirinya sengaja berpura-pura mati sebagai bagian dari operasi khusus intelijen Ukraina untuk mengelabui para pengejarnya--yang diklaim dibayar oleh Pemerintah Rusia.

"Saya ingin meminta maaf kepada Anda semua atas semua ini. Saya minta maaf, tapi tidak ada cara lain untuk melakukannya. Secara terpisah, saya ingin minta maaf kepada istri saya karena harus melalui neraka ini," ujarnya dalam konferensi pers di Kiev, sembari beberapa kali menahan tangis.

Lembaga keamanan Ukraina, SBU, mengklaim menerima informasi mengenai rencana pembunuhan terhadap 30 orang di negara itu, termasuk Babchenko. Namun, mereka menyatakan rencana tersebut telah digagalkan.

Menurut SBU, seorang warga Ukraina sudah ditahan setelah dia direkrut Rusia untuk mencari pembunuh bayaran untuk menghilangkan Babchenko. Dia dibayar US$40.000 untuk menjalankan rencana ini, US$30.000 untuk mencari si pembunuh, dan US$10.000 sebagai bayaran karena telah menjadi perantara.

Orang itu diperintahkan untuk membeli senjata termasuk 300 senapan Kalashnikov, peluncur granat, dan peledak untuk ditimbun di Ukraina tengah.

"Kami tidak hanya berhasil mematahkan provokasi ini, tapi juga mendokumentasikan persiapan kejahatan memalukan yang dilakukan oleh lembaga intelijen Rusia," papar Kepala SBU Vasyl Hrytsak.

Adapun Jaksa Agung Ukraina Yuriy Lutsenko menerangkan pemalsuan kematian Babchenko diperlukan agar para pelaku percaya misi mereka telah tercapai.

Meski berita ini menimbulkan kelegaan, tapi sejumlah pihak menilai langkah itu dapat merugikan.

"Reporters Without Borders menyampaikan kegeramannya setelah mendapati bahwa lembaga intelijen Ukraina melakukan manipulasi sebagai bagian perang informasi," tegas Sekretaris Jenderal Reporters Without Borders Christophe Deloire, dalam akun media sosialnya.

Menurutnya, adalah hal yang sangat berbahaya bagi suatu negara untuk bermain-main dengan fakta terutama di balik dukungan para jurnalis.

Babchenko dikenal sering menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait Ukraina dan Suriah. Berita kematiannya telah menimbulkan reaksi dan perang retorika dari Ukraina serta Rusia, juga dari negara-negara Eropa lainnya dan AS.

Apalagi, hal ini terjadi setelah sejumlah jurnalis ternama Rusia yang kritis terhadap Putin dibunuh dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah lembaga HAM menuding Moskow sebagai pelaku di balik layar, tapi hal ini dibantah oleh Rusia.

Sumber : Reuters

Tag : rusia, jurnalis
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top