Mabes Polri: Pelaku Teror Manfaatkan Kendurnya Pengawasan Densus 88

Mabes Polri mengakui teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daullah melakukan aksi teror di sejumlah tempat karena memanfaatkan lemahnya pengawasan Densus 88 sejak tiga bulan terakhir sebelum insiden peledakan di Gereja Surabaya.
Sholahuddin Al Ayyubi | 24 Mei 2018 14:03 WIB
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto - Antara/Hafidz Mubarak

Bisnis.com, JAKARTA--Mabes Polri mengakui teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daullah melakukan aksi teror di sejumlah tempat karena memanfaatkan lemahnya pengawasan Densus 88 sejak tiga bulan terakhir sebelum insiden peledakan di Gereja Surabaya.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengungkapkan para pelaku teror itu memanfaatkan Densus 88 yang mengendurkan pengawasan kepada kelompk teroris JAD. Menurut Setyo, setelah pengawasan Densus 88 melemah, maka kelompok teroris JAD langsung memanfaatkan momentum tersebut dengan meledakkan sejumlah Gereja di Surabaya.

"Memang 3 bulan sebelum insiden bom itu, Densus mengendurkan pengawasan terhadap para pelaku teror. Selama ini, Densus melihat para pelaku teror itu hanya membuat obat-obatan herbal saja, sehingga Densus tidak curiga," tuturnya, Kamis (24/5/2018).

Selain itu menurut Setyo, alasan Densus mengendurkan pengawasan terhadap para pelaku teror itu juga karena teroris dari jaringan JAD itu aktif bersosialisasi dengan masyarakat. Pasalnya, selama ini pola bermasyarakat para pelaku teror lebih sering ekslusif, artinya tidak mau melakukan sosialisasi maupun komunikasi dengan pihak luar.

"Mereka [teroris] juga belakangan ini kan aktif bersosialisasi masyarakat, karena itu Densus mengendurkan pengawasan kepada mereka. Ternyata hal itu telah dimanfaatkan teroris untuk membuat bom," kata Setyo.

Tag : bom, terorisme
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top