Dolar AS Menguat, Biaya Pinjaman Emerging Market Ikut Melambung

Perusahaan dan pemerintah di emerging market berupaya untuk menghadapi melambungnya biaya pinjaman dalam dolar AS seiring dengan besarnya tekanan terhadap utang jatuh tempo
Dwi Nicken Tari | 23 Mei 2018 18:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan dan pemerintah di emerging market berupaya untuk menghadapi melambungnya biaya pinjaman dalam dolar AS seiring dengan menguatnya nilai tukar dolar AS.

Bloomberg Dolar Index menunjukkan mata uang AS itu menguat 0,42% ke level 94 pada Rabu (23/5/2018) pukul 18.20 WIB.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg, sekitar US$249 miliar dibutuhkan untuk membayar ulang maupun mendanai ulang utang jatuh tempo menjelang tahun depan.

Adapun jumlah itu termasuk utang turunan sepanjang sedekade ketika emerging market menggandakan pinjamannya dalam dolar AS. Negara-negara berkembang itu seakan menolak belajar dari sejarah, ketika krisis utang di Amerika Latin pada 1980-an, krisis keuangan di Asia pada 1990-an, dan default Argentina pada 2000-an.

Bahkan sejak taper tantrum pada 2013, Institute of Intetnational Finance (IIF) mencatat, tingkat utang berdenominasi dolar AS milik kelompok negara emerging market melonjak melebihi US$1 triliun. Angka itu sama dengan gabungan ukutan ekonomi milik Meksiko dan Thailand.

Bahkan negara-negara yang secara efektif membangun pasar utang mata uang lokal pun tidak kebal dari dampak pergeseran kebijakan moneter Federal Reserve.

Hal itu disebabkan oleh kehadiran signifikan dari investor asing yang sensitive terhadap pertukaran yang terjadi di negara ekonomi maju.

“Kami melihat masa depan yang cukup sulit. Semakin tajam kenaikan dolar dan suku bunga, semakin besar risiko penularan dalam jangka pendek,” kata Sonja Gibbs, Direktur Senior Pasar Modal IIF di Washington, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (23/5/2018).

Seperti diketahui, Gibbs melanjutkan, meningkatnya suku bunga AS akan memberikan dampak domino bagi pasar utang domestik.

Imbal hasil Tresuri AS bertenor 10 tahun pada bulan ini telah mencapai level tertingginya sejak 2011, melewati 3%. Hal itu terjadi bahkan ketika The Fed masih di tengah jalan untuk menaikkan suku bunga.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, perkiraan The Fed mencatat puncak kebijakan suku mereka akan terjadi pada 2020 –dalam jangka menengah akan menjadi puncak bagi utang jatuh tempo negara maju.

Data IIF menunjukkan, utang berdenominasi dolar AS membentuk lebih dari tiga kuartal utang asing di emerging market , di level US$8,3 triliun pada akhir 2017. Namun, obligasi bermata uang lokal juga dapat terseret.

Oleh karena itu, Profesor Harvard dan ekonom Carmen Reinhart mengatakan negara berkembang kini lebih parah ketimbang dua momen pelemahan sebelumnya, krisi keuangan global 2008 dan taper tantrum 2013.

Dia menunjuk menggunungnya utang, melemahnya perdagangan, meningkatnya suku bunga global dan melemahnya pertumbuhan sebagai area-area yang harus diperhatikan.

Namun, salah satu alasan pendanaan asing masih melihat daya tarik ekonomi emerging market adalah suku bunga yang dimilikinya.

Analisis Goldman Sachs Group Inc. memperlihatkan bahwa pertumbuhan domestik emerging market tetap kuat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emerging market, utang luar negeri

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top