TENSI PERANG DAGANG: Hasil Perundingan dengan China, Trump Nyatakan `Tak Terlalu' Senang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dia "tidak terlalu" senang dengan hasil pembicaraan perdagangan AS dengan China sejauh ini di saat beberapa pendukungnya mengkritik sikap melunaknya terhadap ancaman tariff impor sebagai pengkhianatan terhadap janji-janji kampanyenya yang populis.
Aprianto Cahyo Nugroho | 23 Mei 2018 11:12 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dia "tidak terlalu" senang dengan hasil pembicaraan perdagangan AS dengan China sejauh ini di saat beberapa pendukungnya mengkritik sikap melunaknya terhadap ancaman tarif impor sebagai pengkhianatan terhadap janji-janji kampanyenya yang populis.

Trump menyatakan keraguannya pada negosiasi kepada wartawan dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in di Oval Office, Selasa (22/5/2018). Ketika ditanya apakah dia senang dengan pembicaraan itu, Trump menjawab, "Tidak, tidak terlalu," meskipun dia menambahkan, "Itu baru permulaan."

Dilansir Bloomberg, pemerintahan Trump memutuskan untuk menunda menerapkan tarif pada barang impor asal China senilai miliaran dolar karena perselisihan di Gedung Putih atas strategi perdagangan dan kekhawatiran rusaknya negosiasi dengan Korea Utara.

Perjanjian dengan China tersebut setidaknya menunda perang perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia yang sempat mengguncang pasar keuangan global selama berbulan-bulan.

Namun, masih banyak kekhawatiran AS tentang praktik ekonomi China yang masih belum terselesaikan, di antaranya akusisi teknologi AS, rencana China untuk mensubsidi pertumbuhan industri domestik yang maju seperti kecerdasan buatan dan energi bersih, dan akses perusahaan AS ke pasar China.

Mantan penasihat Gedung Putih Steve Bannon menyalahkan Mnuchin. “(Trump) mengubah dinamika menyangkut China tetapi dalam akhir pekan Menteri Keuangan Mnuchin telah memberikannya," katanya dalam sebuah wawancara.

"Mnuchin telah salah membaca preseden geopolitik, militer, dan sejarah, dan apa yang dilakukan Presiden Trump akhirnya membingungkan orang China."

Beberapa pejabat Gedung Putih menyalahkan koordinasi yang buruk di antara faksi-faksi yang bertikai di tim ekonomi Trump, menurut beberapa orang yang menjelaskan masalah ini.

Di dalam pemerintahan, perpecahan terjadi antara pendukung perdagangan bebas seperti Mnuchin dan penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dan yang bersikap agresif terhadap China yang dipimpin oleh penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro.

Selama perjalanan ke Beijing awal bulan ini, Navarro dan Mnuchin berdebat tentang posisi negosiasi AS, dan Navarro tidak terlibat secara mendalam pekan lalu dalam negosiasi dengan delegasi China di Washington.

Perbedaan tersebut terlihat jelas dalam tindakan publik Trump. Pada April lalu, Departemen Perdagangan melarang ZTE Corp membeli bahan baku dari pemasok asal AS atas pelanggaran "berat" terhadap sanksi AS yang melarang bisnis di Iran dan Korea Utara.

Namun, Trump berbalik melunak melalui tweet di akun Twottermua sepekan lalu, menyatakan bahwa “akan terlalu banyak pekerjaan di China yang akan hilang”.

Trump mengatakan pada Selasa akan mempertimbangkan kembali sanksi terhadap produsen telekomunikasi China, ZTE Corp, sebagai bentuk bantuan kepada presiden Xi Jinping

"Presiden (Xi Jinping) meminta saya untuk meninjaunya dan saya melakukannya," ujngkap Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (22/5/2018), seperti dikutip Bloomberg.

Ketika ditanya mengenai perusahaan, dia mengatakan belum ada kesepakatan dengan China, namun tidak jelas apakah dia berbicara secara khusus tentang ZTE atau mengenai perselisihan perdagangan yang lebih luas.

Tag : Donald Trump
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top