Pembahasan RUU Antiterorisme Deadlock, Voting Jadi Pilihan

Pemerintah dan Pansus RUU Antiterorisme masih berusaha menyatukan pandangannya tentang definisi terorisme, namun Ketua DPR Bambang Soesatyo khawatir terjadi deadlock sehingga terbuka peluang dilakukan voting.
John Andhi Oktaveri | 23 Mei 2018 20:13 WIB
Loading the player ...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan peristiwa pengeboman 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur, sebagai sebuah tindakan terorisme yang sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan. Ini pernyataan lengkap Presiden Jokowi.

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dan Pansus RUU Antiterorisme masih berusaha menyatukan pandangannya tentang definisi terorisme, namun Ketua DPR Bambang Soesatyo khawatir terjadi deadlock sehingga terbuka peluang dilakukan voting.

Beberapa isu penting soal RUU tersebut termasuk soal motif politik, ideologi, dan ancaman keamanan. Sedangkan isu paling krusial adalah soal definisi terorisme yang belum mencapai titik temu di antara kedua pihak.

Menurutnya, pemerintah ingin cakupan yang lebih luas dari definisi terorisme. Sedangkan DPR ingin lebih spesifik yakni, ada motif politik, ideologi, dan frasa 'mengancam keamanan negara'.

“Jika masih juga menemui jalan buntu atau deadlock, tidak masalah pengesahannya dilakukan melalui voting,” ujranya Rabu (23/5/2018).

Namun demikian, dia berharap RUU Antiterorisme dapat disahkan pada minggu ini. Karena itu pengesahannya bisa dilakukan secara musyawarah mufakat kalau segala sesuatunya berjalan lancar.

“Jika tidak mencapai mufakat, ada mekanisme yang disiapkan oleh UU, yaitu voting," kata Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo.

Menurut politisi Golkar itu, pembahasan RUU Antiterorisme itu pada dasarnya sudah hampir selesai, termasuk perdebatan soal definisi terorisme.

"Itu sudah clear, tinggal penjelasan kalimat per kalimat saja. Jika bisa hari ini bisa selesai atau paling lambat besok sudah beres," ujarnya.

Tag : bom
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top