Hadapi Teroris, Ini Perintah Presiden Kepada Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BIN

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan bekerja sama untuk mengamankan Indonesia jelang bulan puasa.
Newswire | 16 Mei 2018 15:47 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Tiga petinggi terkait keamanan dan pertahanan di Indonesia mendapat perintah khusus dari Presiden terkait ancaman terorisme dan pengaman bulan puasa Ramadan.

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan bekerja sama untuk mengamankan Indonesia jelang bulan puasa.

"Saya sudah perintahkan kepada Kapolri, Panglima dan Kepala BIN untuk terus menjaga, mengendalikan keamanan dan mengedepankan semangat persaudaraan dan kerukunan sosial kita karena besok kita segera menyongsong pelaksanaan ibadah puasa," kata Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Presiden menyampaikan hal itu dalam sidang kabinet paripurna yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla serta para menteri Kabinet Kerja.

"Sehingga kita harapkan umat Islam bisa menunaikan ibadah puasanya dengan rasa aman dan penuh kedamaian," tambah Presiden.

Dalam sepekan terakhir, sejumlah daerah di Indonesia mengalami serangan bom oleh para teroris.

Ia pun meminta agar para menteri dan kepala badan lembaga non-kementerian menyampaikan bahwa Indonesia tetap aman dan pemerintah fokus bekerja.

"Kepada seluruh menteri dan kepala badan, bahwa narasi ke dunia internasional sangat penting sekali, bahwa Indonesia aman dan kita semua fokus untuk bekerja," ungkap Presiden.

Serangan teroris awalnya terjadi pada 8 Mei 2018 yaitu terjadi kerusuhan antara narapidana terorisme dengan anggota Densus 88 di rumah tahanan Mako Brimob menjelang tengah malam.

Akibat kerusuhan itu, lima orang polisi meninggal, satu orang polisi disandera dan satu orang napi teroris tewas.

Ada 155 orang napi teroris yang merebut senjata dan mengambil alih rutan hingga akhirnya mereka menyerah pada 10 Mei 2018 dan seluruhnya dipindahkan ke lapas Nusa Kambangan.

Selanjutnya pada 13 Mei 2018, kota Surabaya diguncang serangan bom bunuh diri. Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela pada pukul 06.30 WIB, bom kedua meletup di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, disusul serangan bom ketiga di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno pada pukul 07.53 WIB.

Selang 14 jam kemudian, ledakan bom terjadi di Blok B Lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan itu merenggut tiga nyawa yang merupakan satu keluarga terduga teroris yang akan melakukan serangan bom.

Polda Jatim dan tim Gegana menemukan tiga bom aktif, dan sejumlah bahan baku pembuat bom dalam jumlah banyak.

Pada 14 Mei 2018 juga terjadi bom bunuh diri di pintu masuk kantor Mapolrestabes Surabaya yang menyebabkan empat pelaku tewas dan menyebabkan masyarakat dan polisi yang ada di sekitar ledakan juga terluka.

Selanjutnya pada hari ini, 16 Mei 2018 terduga teroris menyerang Mapolda Riau. Ada seorang polisi yang meninggal, sedangkan empat orang terduga teroris ditembak hingga tewas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bom, terorisme

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top