Trump Akan Bantu 'Selamatkan' ZTE

Campuran rasa lega menghampiri ZTE Corp. di China setelah Presiden AS Donald Trump tampaknya akan menyelamatkan perusahaan itu lewat cuitan di Twitter.
Dwi Nicken Tari | 15 Mei 2018 18:22 WIB
Nama perusahaan ZTE terlihat di bagian luar gedung riset dan pengembangan ZTE di Shenzhen, China - Reuters/Bobby Yip

Kabar24.com, JAKARTA – Campuran rasa lega menghampiri ZTE Corp. di China setelah Presiden AS Donald Trump tampaknya akan menyelamatkan perusahaan itu lewat cuitan di Twitter.

Perusahaan pembuat perangkat telekomunikasi terbesar kedua di China telah menghentikan hampir semua operasionalnya setelah AS mengenakan moratorium 7 tahun. Di dalam moratorium itu, ZTE dilarang membeli teknologi dari penyuplai AS.

Namun Trump, tak terduga-duga, mencuitkan di akun Twitter-nya, bahwa dia dan Presiden China Xi Jinping sedang bekerja sama untuk memberikan jalan kembali ke bisnis untuk ZTE secepatnya.

“ZTE, perusahaan telekomunikasi besar China, membeli persentase besar dari setiap perusahaan AS. Hal ini juga memperlihatkan kesepakatan perdagangan besar yang kami rundingkan dengan China, dan hubungan personal saya dengan Presiden Xi,” tulis Trump di akun Twitter-nya seperti dikutip, Selasa (15/5/2018).

Mengutip Bloomberg, Selasa (15/5/2018), Trump menambahkan bahwa dia telah meminta Kementerian Perdagangan AS agar menyelesaikan hal ini secepatnya karena ada kekhawatiran terkait lapangan pekerjaan di China.

“Sangat mengejutkan melihat Trump mencuitkan hal seperti ini. Ini tentu saja kabar baik,” kata Kevin Lin, teknisi yang bekerja di Pusat Riset dan Pengembangan ZTE di Beijing.

Adapun karyawan ZTE di Beijing berkumpul di perusahaan pusat pada Senin (14/5/2018) lewat pintu kecil di belakang gedung karena lobinya ditutup untuk renovasi.

Kendati Twitter yang diblok di China, hampir semua pekerja mengirimkan berita tersebut lewat WeChat, layanan pesan daring terpopuler di Negeri Panda.

Adapun hingga kini masih belum jelas betul bagaimana nasib ZTE ke depannya. Trump tidak menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil AS untuk meringankan moratorium tersebut.

Selain itu, Gedung Putih kemudian menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan AS—yang mengeluarkan moratorium—yang akan mengambil keputusan terkait restriksi ZTE.

Adapun Trump tetap melindungi keputusannya untuk membantu perusahaan China tersebut setelah mendapat tekanan kritik bipartisan mengenai bahaya keamanan nasional.

Baik kubu Republik maupun Demokrat memperlihatkan kekhawatiran mereka terhadap perusahaan telekomunikasi China, seperti ZTE, memiliki ikatan dengan pemerintahan China. Mereka percaya bahwa perusahaan China itu membawa ancaman mata-mata ke dalam pasar AS.

Menurut analis Edison Lee dan Timothy Chau di Jefferies, ZTE mungkin akan menghadapi dua skenario yang paling memungkinkan.

Pertama, Kementerian Perdagangan AS mungkin akan menyimpulkan pelanggaran ZTE adalah kesalahan tidak disengaja dan mencabut moratorium tanpa penalti tambahan.

Kedua, Agensi AS akan menahan moratorium tersebut untuk sementara dengan alasan untuk melakukan investigasi dan negosiasi lebih lanjut.

Lee dan Chau menilai skenario kedua kemungkinan besar akan terjadi, yang artinya ZTE akan kesulitan untuk melanjutkan bisnisnya karena ketidakpastian masa depan.

“ZTE mungkin memiliki kesulitan untuk melindungi konsumen baru di luar negeri dalam 12 bulan kedepan karena kepercayaan konsumen kini menjadi lebih rendah,” tulis Lee dan Chau.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
zte, Donald Trump

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top