Baca Pledoi, Setya Novanto Cerita Jualan Beras dan Model Saat Muda

Terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto menceritakan pengalaman hidupnya di dalam pleidoinya.
JIBI | 13 April 2018 13:37 WIB
Terdakwa Kasus Korupsi Pengadaan KTP elektronik Setya Novanto mebaca nota pembelaan pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (13/4). Sidang tersebut mengagendakan pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari terdakwa dan penasehat hukum. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto menceritakan pengalaman hidupnya di dalam pleidoinya.

"Dengan amat terpaksa, izinkan saya menceritakan sedikit perjuangan hidup saya untuk negeri ini," kata dia dalam sidang pembacaan pleidoi di pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (13/4/2018).

Setya Novanto mengatakan tidak bermaksud pamrih karena menceritakan soal kebaikan atau keburukannya dalam pleidoi itu. Dia mengatakan hanya ingin masyarakat tahu bahwa dirinya tidak seburuk yang dibayangkan orang.

"Saya hanya ingin ada sebagian masyarakat sedikit membuka mata untuk melihat sisi lain diri saya, sehingga tidak terus-menerus mencaci saya dengan begitu kejamnya," kata dia.

Setya Novanto menceritakan dirinya tidak lahir dari keluarga konglomerat, tapi dari keturunan keluarga tidak mampu. Namun, dia mengaku punya cita-cita yang tinggi untuk membangun negeri ini.

Dia mengatakan tekad itu didapat dari ucapan mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

"Jangan tanya apa yang bisa negaramu berikan, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu," kata dia mengutip Kennedy.

Untuk mewujudkan cita-cita itu, Setya mengaku rela bekerja apapun. Pahit dan getir kehidupan pun, kata dia, sudah dia lalui.

Jualan Beras hinga Model

Setya Novanto menceritakan setelah lulus SMA dia sudah bekerja untuk bisa menyambung hidup dan berkuliah. Mulai dari berjualan beras, jadi model hingga sales mobil sudah dilakukannya.

"Hingga menjadi kepala penjualan mobil untuk seluruh Indonesia timur di sebuah perusahaan," kata dia.

Selesai kuliah di Surabaya, Setya Novanto lalu merantau ke Ibu Kota untuk melanjutkan kuliah. Di Jakarta, Setya bisa kuliah atas bantuan dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Hayono Isman.

"Karena kemurahan hati beliau lah anak melarat ini bisa jadi orang," kata dia.

Keluarga Hayono Isman, kata dia, telah menjadi saksi bagaimana dahulu dia membangun diri. Di keluarga itu, Setya Novanto bekerja menjadi sopir dan mengantarkan anak-anak ke sekolah.

"Semua saya lakukan agar saya bisa melanjutkan kuliah saya," kata dia.

Setya Novanto lalu mengatakan semua upayanya itu berbuah manis. Sebab, dia akhirnya bisa membangun karir sebagai politikus. Pekerjaan yang menurutnya sesuai dengan cita-citanya untuk mengabdi pada negara.

"Sekali lagi saya sampaikan saya mengatakan ini karena terpaksa. Saya hanya ingin masyarakat melihat dalam kegelapan pemberitaan tentang diri saya. Hingga saya bisa mencari celah semoga tidak mengurangi rasa ikhlas soal apa yang sudah saya lakukan," kata dia.

 

Sumber : Tempo

Tag : setya novanto, korupsi e-ktp
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top