Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bukan Cuma Rudal Nuklir, Penyakit Ini Jadi Senjata Mematikan Korut

Orang-orang di China suka bergurau bahwa Korea Utara memiliki dua senjata mematikan, yakni rudal nuklir dan tuberculosis (Tb).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 April 2018  |  10:54 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Orang-orang di China suka bergurau bahwa Korea Utara memiliki dua senjata mematikan, yakni rudal nuklir dan tuberculosis (Tb).

Meskipun ambisi persenjataan nuklir negara yang dipimpin diktator Kim Jong Un tersebut telah lama mencetuskan kekhawatiran dan mendatangkan sanksi ekonomi, ancaman Tb, pembunuh infeksius terbesar di planet ini, yang melanda negara itu kurang begitu disoroti.

Dengan lebih dari 100.000 kasus pada tahun 2016, Korea Utara masuk dalam daftar World Health Organization (WHO) untuk negara-negara dengan jumlah kasus penyakit paru-paru mematikan terbesar. Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa ledakan pada bakteri yang resistan terhadap berbagai obat bisa muncul.

Pada bulan Februari, The Global Fund, kontributor keuangan terbesar atas pengendalian Tb di Republik Rakyat Demokratik Korea sejak 2010, mengumumkan akan menutup program-programnya di negara itu pada bulan Juni.

Institusi keuangan internasional yang bertujuan untuk memerangi AIDS, Tuberculosis, dan Malaria ini menyebutkan alasan tantangan-tantangan bekerja di negara tersebut.

“Penutupan program-program kemungkinan akan mengarah pada kehabisan persediaan obat-obatan Tb yang terjamin kualitasnya secara nasional,” tulis para dokter Harvard Medical School dalam sebuah surat terbuka kepada The Global Fund, yang diterbitkan pada 14 Maret di jurnal medis Inggris The Lancet.

“Kekurangan seperti itu di masa lalu telah menyebabkan cepatnya pembentukan bakteri Tb yang resistan terhadap obat,” catat mereka.

Infeksi yang tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan standar sudah tersebar di negara ini. Tidak ada survei perwakilan nasional yang telah dilakukan untuk menghitung kasus infeksi ini di antara 25 juta orang Korea Utara.

Tetapi menurut perkiraan WHO, sebanyak 5.700 dari 130.000 infeksi Tb di negara itu pada tahun 2016 disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik rifampicin atau setidaknya dua obat Tb utama lainnya.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal of Korean Medical Science yang menganalisis ratusan sampel dahak pasien, lebih dari tiga perempat dari mereka yang dites positif memiliki bakteri resisten obat.

Dua sampel bahkan mengandung jenis yang sangat resistan terhadap obat, bentuk yang hampir tidak mungkin untuk diobati di negara miskin sumber daya seperti Korea Utara.

Pengobatan untuk pasien dengan Tb yang resistan terhadap berbagai obat (multi-drug resistant TB/MDR-TB) biasanya berlangsung selama dua tahun atau lebih dan biasanya melibatkan suntikan harian selama enam bulan dan pengobatan dengan sekitar 14.000 pil, termasuk yang beracun.

“Cara pengobatan yang terlalu pendek atau bergantung pada obat-obatan inferior atau tidak tepat adalah rute tercepat untuk resistansi obat,” kata Jennifer Furin, seorang dokter dan peneliti di Harvard, yang merawat pasien-pasien Tb selama 23 tahun.

“Pemotongan dana untuk program-program di Korea Utara akan menggerogoti upaya pengendalian penyakit di luar Korea Utara. Ini akan menjadi risiko yang akan ditanggung oleh komunitas kesehatan global di masa mendatang,” lanjut Furin.

Menurutnya, hal ini adalah masalah yang diciptakan secara politis dan akan berubah menjadi bencana kesehatan, bukan hanya untuk orang-orang yang tinggal di Korea Utara, tetapi untuk semua orang di kawasan sekitarnya.

China Waspada

Otoritas China dikabarkan sedang mewaspadai kasus-kasus kesehatan di kalangan pekerja migran dari Korea Utara. Namun, banyak orang yang terpapar Tb mengembangkan infeksi laten tanpa gejala, sehingga sulit untuk mengidentifikasinya di area perbatasan.

Dandong, sebuah kota di timur laut provinsi Liaoning China yang terpisahkan dari Korea Utara oleh sungai, adalah titik masuk utama bagi pekerja migran.

Para pejabat karantina mengidentifikasi 33 kasus Tb di antara 9.500 warga Korea Utara yang melalui skrining dari tahun 2012 hingga 2014, menurut laporan pemerintah yang diterbitkan pada tahun 2014. Laporan ini merekomendasikan pengawasan berskala tinggi di daerah Dandong.

Pemerintah setempat pun pada Desember berjanji untuk memperkuat skrining perbatasan dan manajemen epidemi.

“Saat kasus HIV telah membantu penyebaran Tb di sub-Sahara Afrika, kekurangan gizi kronis memicu epidemi di Korea Utara,” ujar Kwonjune Seung, salah satu penulis surat terbuka kepada Global Fund yang diterbitkan dalam The Lancet.

Dua kali dalam setahun, Seung mengunjungi sejumlah pusat Tb di Korea Utara sebagai direktur medis Eugene Bell Foundation, sebuah badan amal Kristen yang fokus pada perawatan pasien Korea Utara.

“Membutuhkan puluhan tahun untuk membersihkan limpahan kasus MDR-TB dari Korea Utara. Ini dapat merugikan kesehatan masyarakat dari negara-negara yang berbatasan dengannya, seperti China dan Korea Selatan,” tulis Seung dan rekan-rekannya.

Harus Dilakukan

Lebih dari 38 negara diketahui berkontribusi kepada The Global Fund, termasuk Korea Selatan dan AS. Pada akhir Maret, Kongres AS menyetujui US$1,35 miliar dalam pendanaan untuk tahun finansial 2018.

Dalam sebuah surat terbuka kepada organisasi yang bermarkas di Jenewa ini dan diterbitkan pada 13 Maret oleh Korean Central News Agency (KCNA), kantor berita resmi Korea Utara, Kim Hyong Hun, wakil menteri kesehatan masyarakat Korut, menuding The Global Fund tunduk pada tekanan beberapa kekuatan yang tidak bersahabat.

Global Fund membela keputusannya untuk menangguhkan programnya di Korea Utara. Mereka sepenuhnya sadar akan risiko yang mungkin timbul dari keputusan ini dan menyatakan bekerja sama dengan Unicef untuk mengakomodasi tindakan mitigasi.

“Keputusan untuk mundur dari negara itu tidak diambil sebagai tanggapan terhadap tekanan tetapi dipengaruhi oleh kekhawatiran tentang lingkungan operasi yang khusus di Korea Utara,” jelas The Global Fund dalam e-mail mereka, seperti dikutip Bloomberg.

Tertutupnya lingkungan tidak memungkinkan pendonor menjamin penggunaan yang efektif dari dana dan sumber daya serta mengelola risiko.

Pada Agustus lalu, peninjau kinerja internal The Global Fund menyematkan peringkat B1 atau “adequate” untuk program di Korea Utara.

“Keputusan untuk menangguhkan proyek-proyek The Global Fund di Korea Utara, dengan hampir tidak adanya transparansi atau publisitas, bertentangan dengan aspirasi etika komunitas kesehatan global, yakni untuk mencegah kematian dan penderitaan akibat penyakit, terlepas dari di mana mereka berada,” lanjut Seung dan rekan-rekannya.

Furin sendiri melihatnya sebagai dimensi lain dari ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Kim Jong Un. Oleh Trump, Kim dijuluki "Little Rocket Man" setelah Korut menguji kemampuan rudalnya pada bulan September.

Kedua negara direncanakan akan bertatap muka langsung dalam sebuah pertemuan bersejarah dalam waktu dekat.

“Anda tidak bisa tidak berpikir kekuatan global sangat prihatin dengan perilaku tak menentu Korea Utara, dan ini adalah cara untuk menghukum negara itu,” kata Furin. “Tapi ini adalah penghancur. Tb adalah penyakit yang tersebar melalui udara dan tidak berdiam di dalam kawasan tertentu.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korut
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top