Cambridge Analytical Bantah Tuduhan Facebook

Akhir pekan lalu, jaringan sosial terbesar di dunia ini mengatakan bahwa perusahaan periklanan asal Inggris, Cambridge Analytical, telah menerima data pengguna Facebook melalui pengembang aplikasi milik jaringan sosial mereka pada 2015.
Dwi Nicken Tari | 20 Maret 2018 15:26 WIB
Facebook - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA--Akhir pekan lalu, jaringan sosial terbesar di dunia ini mengatakan bahwa perusahaan periklanan asal Inggris, Cambridge Analytical, telah menerima data pengguna Facebook melalui pengembang aplikasi milik jaringan sosial mereka pada 2015. 

 

Kala itu, Cambridge Analytica dapat mengakses lebih dari 50 juta profil pengguna Facebook tanpa izin, yang tentu saja melanggar kebijakan Facebook.

 

Adapun, perusahaan milik Zuckerberg ini sejatinya ingin melindungi diri karena mereka mengetahui bahwa New York Times dan The Guardian’s Observer akan menerbitkan laporan mengenai kasus Cambridge Analytica yang masih  menyimpan informasi lebih dari 50 juta pengguna Facebook ini.

 

 

Oleh karena itu, Facebook mengambil tindakan awal pada Jumat (16/3) dengan mengirimkan gugatan resmi kepada Cambridge Analytica. Selain itu, mereka juga telah mengumpulkan informasi dan mengumumkan alasan mereka menangguhkan perusahaan iklan itu dari situsnya.

 

Pernyataan Facebook yang ingin mendapat penilaian bahwa mereka sangat serius memeriksa permasalaan ini justru menjadi bumerang bagi perusahaan pada Sabtu (17/3). Pasalnya, informasi yang diberikan Facebook dalam bentuk tulisan blog-nya itu belum terverifikasi.

 

Adapun, kasus Cambridge Analytica ini merupakan rangkaian terbaru kecerobohan Facebook dalam memberikan respons.  Mereka telah membuat publik bereaksi berlebihan alih-alih memecahkan masalah itu sendiri.

 

Adapun, Facebook juga menambah informasi di postingan blognya, mengatakan bahwa Cambridge Analytica dan perisetnya, Aleksandr Kogan, telah setuju untuk melakukan audit forensik digital untuk membuktikan bahwa mereka telah benar menghapus data-data itu.

 

Akan tetapi, Facebook menambahkan, satu-satunya orang yang tidak setuju dengan audit itu adalah Christopher Wylie, mantan kontraktor Cambridge Analytica yang membocorkan masalah data-data yang bocor ini ke media.

 

Meskipun begitu, langkah-langkah yang diambil Facebook tetap tidak bisa meyelesaikan permasalahan secara efisien. Para audit yang dipimpin oleh Stroz Friedberg yang datang ke kantor Cambridge Analytica di London telah menghentikan operasional perusahaan iklan itu,

 

Sementara itu, diamnya Direktur Eksekutif Facebook Mark Zuckenberg dan Kepala Operasional Sheryl Sandberg juga sama sekali tidak membantu. Begitu pun, laporan dari New York Times pada Senin (19/3) malam, yang menyatakan bahwa Kepala Keamanan Alex Stamos akan meninggalkan posisinya setelah berbenturan dengan pejabat eksekutif lainnya, termasuk Sandberg, mengenai sistem Facebook dalam menangani kampanye misinformasi Rusia.

 

“Kebanyakan dari pejabat eksekutifnya belum diwawancara secara ril selama ini, biarlah jawabannya datang sendiri nantinya,” tulis Zeynep Tufecki, asisten profesor di University of North Carolina, spesialis di bidang jaringan sosial dan demokrasi, di akun Twitter-nya.

 

Menanggapi hal tersebut, Cambridge Analytica menyangkal tuduhan mencuri data pengguna Facebook dalam kampanye presiden AS, Donald Trump yang digugat Facebook. Mereka juga menyangkal memiliki taktik  untuk mempengaruhi beberapa pemilihan dan pemungutan suara, termasuk referendum Brexit.

 

Presiden Direktur Cambridge Analytica Alexander Nix menyatakan bahwa tuduhan terhadap perusahaanya itu sangat tidak mendasar dan tidak adil.

 

“Tuduhan ini tampak seperti serangan terkoordinasi dari media yang selama ini ingin merusak perusahaan yang terlibat dengan pemilihan Donald Trump,” katanya, seperti dikutip Reuters, Selasa (20/3).

 

Cambridge Analytical yang tadinya didanai oleh mantan Wakil Direktur Renaissance Technologies dan pendukung Trump, Robert Mercer, menggunakan data dari media sosial untuk mencapai pemberi suara lewat pesan hyper-targeted, termasuk Facebook dan layanan sosial media lainnya.

Sumber : Bloomberg/Reuters

Tag : facebook
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top