Menlu AS Rex Tillerson Sampaikan Pidato Perpisahan Menyentuh, Nama Trump Tak Disebut

Dalam pidato menyentuh menyusul pemecatan terhadap dirinya oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson menyampaikan apresiasi yang besar kepada jajaran Departemen Luar Negeri.
Renat Sofie Andriani | 14 Maret 2018 07:34 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Dalam pidato menyentuh menyusul pemecatan terhadap dirinya oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson menyampaikan apresiasi yang besar kepada jajaran Departemen Luar Negeri.

Berbicara di Departemen Luar Negeri pada Selasa (13/3) waktu setempat, Tillerson menyampaikan penghargaan atas para pemimpin 'tanpa pamrih' di departemen yang telah dipimpinnya lebih dari satu tahun tersebut serta badan-badan lainnya.

Pria yang akan segera menginjak usia 66 tahun ini menyoroti langkah-langkah yang dibuat pada masanya memimpin serta mendorong para wakilnya untuk tetap mengabdi pada tugas mereka.

“Yang terpenting adalah memastikan transisi yang tertib dan lancar selama negara terus menghadapi tantangan-tantangan kebijakan dan keamanan nasional yang signifikan,” ucap Tillerson, seperti dikutip CNBC, Rabu (14/3/2018).

Beberapa kali, suaranya terdengar parau saat menyampaikan pidato itu. Namun ia tak terdengar menyebut nama Trump atau menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada presiden ke-45 AS tersebut.

Tillerson menambahkan bahwa dia akan fokus pada transisi untuk bakal pemimpin baru Departemen Luar Negeri yang ditunjuk Trump, yakni Direktur CIA Mike Pompeo.

Sementara itu, Tillerson akan menyerahkan tanggung jawabnya kepada Wakil Menteri Luar Negeri AS John Sullivan. Secara resmi, ia akan meninggalkan tugas-tugasnya pada pengujung bulan ini.

Presiden Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan memecat Tillerson pada hari yang sama dalam sebuah cuitan. Kepada wartawan, Tillerson berkata telah berbicara dengan Trump pada Selasa siang.

Pejabat Gedung Putih mengungkapkan kepada kantor-kantor berita bahwa Tillerson telah mengetahui perihal pemecatannya pada Jumat pekan lalu.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Steve Goldstein sebelumnya mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa Tillerson tidak berencana untuk berhenti. “Dia [Tillerson] tidak berbicara dengan presiden pagi ini dan tidak mengetahui alasan pemecatannya,” Goldstein mengatakan.

Goldstein sendiri ternyata juga dipecat pada hari Selasa.

Trump diketahui beberapa kali memiliki perbedaan pendapat selama masa jabatan Tillerson. Area perbedaan itu di antaranya tentang kesepakatan nuklir Iran, kesepakatan iklim Paris, negosiasi dengan Korea Utara, dan tanggapan terhadap tindakan Rusia di seluruh dunia.

Baru-baru ini, Tillerson kembali memiliki perbedaan pendapat dengan Gedung Putih bahwa racun yang digunakan pada bekas mata-mata di Inggris berasal dari Rusia. Hal ini tak lupa disinggung Tillerson dalam pidato perpisahannya

“Banyak pekerjaan tertinggal tentang merespons perilaku dan tindakan yang mengganggu dari pihak pemerintah Rusia,” kata Tillerson.

“Rusia harus menilai dengan seksama bagaimana tindakannya untuk kepentingan terbaik warga Rusia dan dunia secara lebih luas,” lanjutnya.

Di sisi lain, ia mengatakan Amerika Serikat telah melampaui ekspektasi banyak pihak dalam menerapkan sanksi demi upaya menghentikan program nuklir dan rudal Korea Utara.

“Masih banyak yang harus dilakukan dalam kebijakan luar negeri AS,” tambahnya merujuk pada upaya mengakhiri perang sipil di Suriah serta memastikan stabilitas di Irak. “AS juga akan menghadapi tantangan dalam memperbaiki hubungannya dengan China.”

Di akhir pidatonya, Tillerson kembali mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Departemen Luar Negeri dan Amerika secara keseluruhan atas tindak kebaikan dan kerja keras yang diberikan.

“Saya sekarang akan kembali ke kehidupan pribadi sebagai warga negara pribadi, sebagai warga Amerika yang bangga, bangga dengan kesempatan yang diberikan untuk melayani negara saya. Tuhan memberkati Anda semua, Tuhan memberkati rakyat Amerika, Tuhan memberkati Amerika.”

Tag : pemecatan, Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top