Dampak Rupiah dan Pilkada Terbatas di Jateng

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak rupanya dianggap terbatas oleh sejumlah pengusaha di Jawa Tengah.
Yustinus Andri DP | 13 Maret 2018 17:19 WIB
Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah - Bisnis.com

Kabar24.com, SEMARANG—Dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak rupanya dianggap terbatas oleh sejumlah pengusaha di Jawa Tengah.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Tengah Deddy Mulyadi Ali mengakui, perusahaan yang berbasis ekspor mendapatkan keuntungan dari melemahnya rupiah dalam sepekan terakhir.

Namun, dia tidak yakin apakah sentimen tersebut akan mempengaruhi pendapatan perusahaan selama setahun penuh.

“Memang sentimen ini bagus bagi perusahaan berbasis ekspor. Tetapi yang perlu kita cermati pelemahan rupiah ini tidak mempengaruhi peningkatan permintaan, hanya mengerek dari segi nilai ekspornya saja,” katanya, Selasa (13/3).

Pasalnya, menurut Deddy, sentimen pergerakan mata uang cenderung berjalan temporer atau jangka pendek. Adapun, lanjutnya, sentimen terbesar yang memengaruhi para eksportir di Jateng adalah tren pulihnya perdagangan global.

Hal itu menurutnya, memberikan efek yang jauh lebih signifikan bagi pebisnis di Jateng, yang memiliki mitra dagang di luar negeri. Dia memperkirakan tren perbaikan ekonomi global tersebut akan membantu perekonomian Jateng tumbuh pada kisaran 5,1%-5,2% secara year on year (yoy).

Sementara itu, terkait pilkada, Deddy juga memperkirakan tidak akan memberikan dorongan yang siginifikan bagi pebisnis dan perekonomian Jateng secara keseluruhan. Dalam hal ini, dia memprediksi bisnis sektor jasa, periklanan dan konveksi menjadi yang paling mendapatkan keuntungan.

“Namun yang jadi catatan, momen pilkada ini juga temporer. Dari sekian banyak yang terdampak positif, perhotelan mungkin yang mendapat porsi keuntungan terbesar,” ujar Deddy.

Senada, eksportir furnitur Jateng sekaligus pemilik UD Permata Furni Ernie Sasmito juga mengatakan bahwa pelemahan mata uang Indonesia tidak terlalu berdampak siginfikan kepada aktivitas pengiriman furnitur Jateng ke luar negeri. Terlebih, lanjutnya, permintaan dari pasar domestik saat ini terus menggeliat.

Meskipun demikian, dia tidak menampik bahwa para pengusaha furnitur berbasis ekspor, mendapatkan sentimen positif dengan menigkatnya daya saing di pasar global dari sisi harga.

“Patokan kita di kisaran Rp13.500 per dolar AS. Jadi ketika bergerak ke kisaran Rp13.800 kami menganggap itu belum terlalu signifikan pengaruhnya ke keuntungan kami,” kata Ernie.

Di sisi lain, Deputi Kepala BI Jateng Rahmat Dwisaputra memperkirakan bahwa momentum pilkada serentak akan menjadi salah satu pendongkrak perekonomian Jateng. Menurutnya, agenda pemilihan gubernur dan pemilihan kepala daerah di 7 kabupaten/kota di Jateng pada kuartal II/2018, diharapkan akan mendorong meningkatnya konsumsi publik.

Selain itu, daya beli masyarakat yang relatif terjaga juga diperkirakan berdampak pada peningkatan kinerja konsumsi Jateng pada tahun ini.

“Harapannya rupiah ini dapat meningkatkan daya saing dan nilai komoditas ekspor. Namun, perlu dilihat, terutama pengusaha produk olahan. Jika bahan baku mereka masih impor, maka pergerakan rupiah justru tidak berarti apapun,” ujarnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat melemah ke level terendahnya sejak 2016 dengan menembus Rp13.816 per dolar AS pada Kamis (8/3). Namun, mata uang Garuda berangsur kembali menguat ke level Rp13.759 per dolar AS pada Selasa (13/3).

Tag : jateng
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top