Soal TGPF, Novel Ajak Masyarakat Doakan Presiden Jokowi

Penyidik KPK, Novel Baswedan mengajak segenap komponen bangsa mendoakan Presiden Joko Widodo agar bisa mengambil kepuusan soal tim gabungan pencari fakta atau TGPF. Ditemui di kediamannya, Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (27/2/2018), Novel mengatakan bahwa dia menyerahkan kepada Presiden Joko Widodo terkait pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk menyelidiki kasus penyerangan terhadap dirinya.
MG Noviarizal Fernandez | 27 Februari 2018 18:17 WIB
Kapolri Jend. Pol. Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dalam konferensi pers mendadak usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (31/7) sore. - BPMI Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Penyidik KPK, Novel Baswedan mengajak segenap komponen bangsa mendoakan Presiden Joko Widodo agar bisa mengambil kepuusan soal tim gabungan pencari fakta atau TGPF.

Ditemui di kediamannya, Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (27/2/2018), Novel mengatakan  dia menyerahkan kepada Presiden Joko Widodo terkait pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk menyelidiki kasus penyerangan terhadap dirinya.

“Presiden yang lebih tahu dan Presiden akan ambil kebijakan apa, kita doakan yang terbaik. Saya berharap kasus penyerangan seperti ini tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,” katanya.

Dia mengaku saat ini masih memfokuskan perhatian pada proses penyembuhan matanya. Meski demikian, dia berpandangan  peristiwa ini tidak boleh dibiarkan karena akan berefek pada tindakan serupa pada aparat negara yang sedang bertugas.

“Sebaiknya hal ini terungkap dan kami sudah menyampaikan perlunya dibentuk TGPF. Meski demikian, peristiwa ini tidak membuat saya pesimistis karena saya berharap setelah sembuh bisa bertugas lagi dan itu butuh optimisme serta semangat. Saya tidak mau hal-hal itu mengganggu saya dan rekan-rekan lainnya,” tuturnya.

Muhammad Isnur, Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengatakan Joko Widodo harusnya belajar dari Susilo Bambang Yudhoyono yang membentuk TGPF untuk menyikapi berbagai polemik seperti cicak vs buaya maupun pembunuhan terhadap aktivis HAM, Munir.

TGPF, lanjutnya, tidak hanya memberikan dukungan teknis penyelidikan, tetapi dianggap mampu menembus berbagai tekanan politik yang menghambat penyelidikan kasus penyerangan terhadap Novel. Faktor politik, tuturnya, diyakini melatarbelakangi penyerangan tersebut karena Novel merupakan penyidik kasus-kasus korupsi yang melibatkan sejumlah nama besar.

“Novel bukan sekedar pribadi tapi penyidik KPK yang menangani kasus besar. Serangan terhadap dia kami curigai berkaitan dengan proses pengungkapan korupsi,” ucapnya.

Pihaknya berencana mendorong beberapa lembaga negara seperti Komnas HAM maupun Ombudsman Republik Indonesia untuk menyuarakan pembentukan TGPF ini sehingga Presiden Joko Widodo berani mengambil langkah tersebut.

“Presiden nampaknya masih percaya kepada Kapolri. Harusnya Presiden beri waktu yang tegas kapan harus diungkap. Jangan sampai seperti kasus-kasus lain di masa lampau yang tidak terungkap. Jokowi jangan ulangi kesalahan sebelum-sebelumnya,” pungkas dia.

Seperti diketahui, Novel Baswedan diserang oleh dua pria tidak dikenal menggunakan air keras di dekat Mesjid Jami Al Ihsan pada 11 April 2017. Kala itu, dia baru saja selesai menunaikan ibadah subuh berjemaah di mesjid pukul 05.10 WIB.

Mantan penyidik Polri ini merupakan Kepala Satuan Tugas yang menangani beberapa perkara besar yang sedang ditangani KPK. Salah satunya adalah kasus dugaan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik yang hingga kini penyidikannya teurs bergulir dan menjert sejumlah tersangka termasuk politis Setya Novanto.

Tag : novel baswedan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top