Kejahatan Siber di Seluruh Dunia Sebabkan Kerugian US$600 Miliar

Biaya kerugian akibat kejahatan siber (cybercrime) di seluruh dunia dilaporkan telah mencapai US$600 miliar pada tahun lalu atau sekitar 0,8% dari PDB global.
Renat Sofie Andriani | 23 Februari 2018 15:05 WIB
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Kabar24.com, JAKARTA – Biaya kerugian akibat kejahatan siber (cybercrime) di seluruh dunia dilaporkan telah mencapai US$600 miliar pada tahun lalu atau sekitar 0,8% dari PDB global.

Yang lebih mengkhawatirkan daripada angka tersebut kemungkinan adalah besarnya pertumbuhan dibandingkan dengan biaya kerugian global pada 2014, yang tercatat hanya mencapai US$445 miliar.

Menurut Ian Yip, chief technology officer untuk wilayah Asia Pasifik di firma keamanan siber McAfee, pesatnya pertumbuhan terutama disebabkan oleh rendahnya biaya masuk serta kemajuan teknologi seperti pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Di kawasan Asia Pasifik saja, cybercrime telah menyebabkan kerugian senilai US$171 miliar. Kepada CNBC, Yip menjelaskan bagaimana tindak kriminal di dunia maya telah semakin mudah untuk dilakukan.

Cybercrime adalah satu-satunya usaha kriminal yang memiliki ‘help desk’ sendiri. Para pelaku tidak perlu lagi dibekali teknologi untuk melakukan serangan siber,” jelas Yip.

Analisis tersebut muncul saat McAfee dan think tank AS The Center for Strategic and International Studies merilis sebuah studi berjudul ‘The Economic Impact of Cybercrime—No Slowing Down’, yang menilai gravitasi dari apa yang Yip sebut sebagai ‘pandemi’ cybercrime.

“Ketika Anda melihat biaya kejahatan siber terkait ekonomi internet di seluruh dunia, senilai US$4,2 triliun pada tahun 2016, kejahatan siber dapat dilihat seperti pungutan sebesar 14% terhadap pertumbuhan,” terang McAfee mengenai penelitian tersebut.

Dilanjutkan oleh Yip, negara-negara tertentu telah dianggap sebagai tempat yang aman bagi penjahat dunia siber. Negara-negara seperti Korea Utara, Iran, dan Rusia cenderung mengincar layanan keuangan.

“Sementara itu, kegiatan spionase semakin merajalela di China,” tambah Yip.

Laporan tersebut muncul bersamaan dengan disorotinya tindak peretasan cryptocurrency. Contoh teranyar adalah peretasan bursa pertukaran cryptocurrency berbasis di Tokyo, Coincheck, di mana hampir 58 miliar yen koin NEM dicuri.

Meskipun bukan yang pertama terjadi, peristiwa itu merupakan salah satu kasus pencurian terbesar. Pengguna dan investor cryptocurrency telah menyuarakan kekhawatiran tentang perlunya standar yang lebih tinggi dan sistem peraturan yang luas untuk melindungi kepentingan mereka.

 

 

Tag : cybercrime, kejahatan siber
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top