Mesir Prihatin Situasi Kemanusiaan di Suriah

Mesir pada Rabu (21/2/2018) menyampaikan keprihatinannya yang mendalam sehubungan dengan perkembangan terkini di Ghouta Timur, Suriah, dan konsekuensinya pada kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Newswire | 22 Februari 2018 08:40 WIB
Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi - Reuters

Kabar24.com, KAIRO - Mesir pada Rabu (21/2/2018) menyampaikan keprihatinannya yang mendalam sehubungan dengan perkembangan terkini di Ghouta Timur, Suriah, dan konsekuensinya pada kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Di dalam satu pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan ada keperluan yang sangat mendesak bagi gencatan senjata kemanusiaan guna memungkinkan pengiriman bantuan dan mengungsikan orang yang cedera guna menghindari bencana kemanusiaan sesungguhnya.

Kairo kembali mengutuk pemboman daerah sipil di Ghouta, Damaskus dan seluruh Suriah.

"Mesir melanjutkan kontak dan upayanya dengan semua pihak guna menemukan cara keluar dari situasi kemanusiaan menyedihkan di wilayah yang dicabik pertempuran tersebut," kata pernyataan itu.

Kerusuhan baru-baru ini di Ghouta Timur menimbulkan keprihatinan regional dan internasional mengenai warga sipil tak berdosa yang terkepung di daerah kantung tersebut.

Ghouta Timur adalah bagian dari zona "penurunan ketegangan" di Suriah dalam kesepakatan yang dicapai pada Mei lalu di Astana, Kazakhstan, antara Pemerintah Suriah dan kelompok gerilyawan.

Kesepakatan penurunan ketegangan tersebut belakangan ditandatangani di Kairo, Mesir, pada Juli dan Agustus 2017.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri di Kairo menyatakan kontak Mesir dengan semua pihak dilakukan dalam kerangka kerja visi Mesir, yang dilandasi atas upaya untuk mencapai gencatan senjata yang akan membantu dilanjutkannya perundingan politik ke arah penyelesaian krisis Suriah.

Penyelesaian politik adalah satu-satunya pilihan guna menyelesaikan krisis Suriah dan mewujudkan perdamaian serta kestabilan di Suriah, demikian penegasan kembali Kementerian tersebut, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi.

Suriah selama bertahun-tahun telah menderita ketidak-stabilan akibat netrokan antara pasukan pro-pemerintah dan gerilyawan bersenjata serta pelaku teror dari kelompok fanatik IS.

Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad didukung oleh Rusia, Iran dan milisi Syiah yang setia kepada Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon.

Tentara Rusia di Suriah telah melancarkan serangan pemboman untuk mendukung pasukan pemerintah, sementara koalisi anti-teror internasional pimpinan AS telah melancarkan serangan terhadap sasaran IS di negara yang dirongrong konflik tersebut.

Sejak meletus pada Maret 2011, krisis Suriah telah merenggut sebanyak setengah juta jiwa dan melukai serta memaksa lebih dari 14 juta orang lagi meninggalkan rumah mereka.

Sumber : Antara

Tag : suriah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top