Imlek : Ini Kisah Pembuat Barongsai Semarangan

Thio Thiong Gie atau yang akrab dipanggil Teguh Chandra Irawan memang tak bisa dipisahkan dengan wayang potehi. Meski telah berpulang, semangat untuk melestarikan kesenian laten Tionghoa terlanjur mendarah daging ke keturunan dalang legendaris itu.
Alif Nazzala Rizqi | 14 Februari 2018 17:00 WIB
Gunawan bersama rekannya Saat Mengerjakan Barongsai Di Bengkel Las Petudungan Semarang

Kabar24.com, SEMARANG - Thio Thiong Gie atau yang akrab dipanggil Teguh Chandra Irawan memang tak bisa dipisahkan dengan wayang potehi. Meski telah berpulang, semangat untuk melestarikan kesenian laten Tionghoa terlanjur mendarah daging ke keturunan dalang legendaris itu.

Bukan hanya potehi, Satya Heri Chandra, cucu mendiang Teguh Chandra, memilih jalannya sendiri untuk memperjuangkan kesenian khas Tionghoa lainnya, yakni seni tari barongsai.

"Awalnya memang kenalnya potehi, tapi karena kakek channelnya keseniannya banyak, salah satunya barongsai itu. Potehi juga sudah ada Paman (Thio Haow Lie) yang meneruskan. Bapak ke Barongsai, diteruskan saya. Jalannya beda-beda," ujarnya saat ditemui di bengkel las miliknya, Jalan Petudungan, Semarang Rabu (14/2/2018).

Terhitung, sudah sejak dari masa SD, pria 27 tahun itu tertarik untuk menggeluti seni tari barongsai. Ia yang menjadi instruktur sejak tahun 2010, juga menggeluti usaha lain warisan kakeknya, yakni sebagai pengrajin kostum barongsai bersama ayah dan adiknya.

Bahkan, Satya mengaku lebih memilih untuk putus sekolah demi bisa berkonsentrasi pada dua hal ini. "Saya pendidikan terakhir kelas 2 SMP, ya karena waktu itu sedang ramai-ramainya pesanan. Saya mulai bantu-bantu ayah dan malah terlampau fokus di sini," sambungnya.

Menjelang imlek ini, dia sekeluarga disibukkan dengan berbagai pesanan pembuatan barongsai dan liong atau naga. Dia bahkan mengaku tak sempat menggarap kostum miliknya sendiri yang akan dipakai pentas besok (15/2/2018).

Pesanan itu sendiri, ia terima dari berbagai kota di penjuru Indonesia. Dimana lima set kostum barongsai dan satu set liong telah ia kirimkan ke Surabaya, Pontianak, serta Makasar. "Pesanan sudah pada datang sejak tiga empat bulan lalu. Dipesan sama yang biasa ikut lomba," tambahnya.

Satya memasang tarif untuk satu set kostum barongsai berbulu sintetis Rp2,5 juta, sedangkan untuk jenis bulu domba, ia bandrol dengan harga Rp5 hingga Rp5,5 juta.

Untuk liong sendiri, yang memiliki berat 3,5 kilogram dan panjang 19 meter ini, dia jual seharga Rp6,5 juta.

"Tergantung permintaan pembeli sebenarnya. Tapi biasanya, warna semakin terang semakin mahal. Karena kan dasarannya putih, tangan kotor sedikit saja, kena noda ya cat ulang," kata Satya.

Pernah, dirinya menjual kostum liong seharga Rp8 juta yang mana ia ceritakan pada saat itu pembuatan sangatlah mendetail. Termasuk penggunaan cat jenis stabilo sehingga kostum seakan menyala dalam gelap.

Waktu pengerjaannya pun beragam, tergantung tingkat kesulitannya. Menurutnya satu set barongsai bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu. Termasuk dari proses pemasangan rangka, pengeleman, penjahitan, dan pewarnaan.

"Bagian pewarnaan bisa jadi permasalahan tersendiri, selain detail ya lihat cuaca. Kalau musim-musim lembab begini ya cat susah kering. Lagi mempengaruhi kertas yang kita pakai sebagai dasaran, jadi lembek begitu," ungkapnya.

Gunawan Herry Chandra, adik Satya mengungkapkan untuk perangkaian kerangka membutuhkan kejelian yang tinggi. Apalagi, jika sudah berhubungan dengan ciri khas barongsai Semarang itu sendiri.

"Semarang itu terkenal garang, karena selain catnya itu sendiri beda, pada bagian kepala itu secara struktur tidak rata tapi melengkung. Matanya juga tidak sama dengan barongsai kota lain. Ini juga pengerjaannya sedikit rumit," ujar Gunawan.

Meski demikian, keduanya mengklaim bahwa pesanan tahun ini lebih sedikit ketimbang momen yang sama tahun lalu. Pengrajin kostum barongsai yang kian menjamur ditengarai menjadi faktor utamanya.

Baik Satya maupun Gunawan mengatakan, bahwa keuntungan yang diperoleh dari bisnis mereka ini sebenarnya tidaklah besar. Pasalnya, mereka berdua melakukan hal tersebut selain sebagai kesenangan, tapi juga kewajiban untuk tak membiarkan kesenian khas tergerus oleh kebudayaan modern.

"Di Tahun Anjing tahun ini, saya berharap mendapat berkah berlebih dari hasil usaha barongsai ini. Kita juga lagi persiapan pentas untuk imlek besok. Walaupun personel masih susah cari yang setia, tapi tetap kita harus tampil. Jangan sampai kebudayaan ini mati," pungkasnya.

Tag : imlek, barongsai
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top