Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Moderasi Islam di Pondok Pesantren Cegah Radikalisme

Penguatan moderasi Islam di pondok pesantren sedang dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kementerian Agama di Jakarta dengan peserta para pimpinan dan kyai lembaga pendidikan itu.
Nurudin Abdullah
Nurudin Abdullah - Bisnis.com 28 Desember 2017  |  00:40 WIB
Sejumlah santri Pondok Pesantren Darusy Syifa Al Islami, Ploso Jati, Kudus, Jawa Tengah. Ilustrasi - JIBI/Nurudin Abdullah
Sejumlah santri Pondok Pesantren Darusy Syifa Al Islami, Ploso Jati, Kudus, Jawa Tengah. Ilustrasi - JIBI/Nurudin Abdullah

Kabar24.com, JAKARTA - Penguatan moderasi Islam di pondok pesantren sedang dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kementerian Agama di Jakarta dengan peserta para pimpinan dan kyai lembaga pendidikan itu.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Zayadi, mengatakan penguatan moderasi untuk menyikapi perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan.

“Tantangan umat Islam, terutama pondok pesantren hari ini dan ke depan adalah bagaimana pesantren mampu menjawab dan menyikapi perbedaan dan keragaman dalam kehidupan,” katanya dalam situs resmi Kemenag, Rabu (27/12/2017).

Menurutnya, diantara narasumber dalam FGD adalah Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris, Peneliti PPIM UIN Jakarta M. Hilali Basya, Direktur Fahmina Institute Marzuki Wahid, dan mantan narapidana terorisme Sofyan Tsauri.

Dia menjelaskan komunitas pesantren kaya akan khazanah pemikiran dan perspektif  komparatif  yang tertuang dalam kitab-kitab kuning (kitab klasik), yang juga memuat perspektif komparatif, misalnya dalam kajian fikih muqaran.

Kekayaan khazanah itu, lanjutnya, memberi pelajaran bagi para santri tentang bagaimana para ulama terdahulu berargumentasi untuk menopang pendapat mereka masing-masing, meski pada akhirnya mengambil pendapat paling unggul.  

Pada tataran ini, lanjutnya, para santri cenderung menyikapi perbedaan pendapat para ulama dengan kepala dingin, tanpa sikap takfir (mengkafirkan).

“Kondisi inilah yang dapat mengantarkan para santri pada sikap yang tidak mudah menyalahkan orang lain, sepanjang memiliki argumentasi yang kuat,” jelasnya.

Zayadi mengajak para kyai untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman guna merumuskan hal terbaik bagi pengembangan pesantren, khususnya dalam penguatan moderasi Islam.

"Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia ke depan dalam perspektif orang-orang pesantren yang senantiasa menghargai warisan tradisi intelektual masa lalu, tanpa harus menutup diri dari konstelasi perubahan dan perkembangan zaman," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesantren radikal
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top