Galeri Damping Pamerkan Relief Kayu Gaya Ubud Terkini

Damping Gallery menggelar menggelar pameran seni rupa akhir tahun bertajuk 'Transcending Myth and Reality: Damping Wooden Reliefs', 28 Desember 2017 hingga 28 Januari 2018.
Ema Sukarelawanto | 25 Desember 2017 22:10 WIB
Gugurnya Rahwana, salah satu karya yang dipamerkan Damping gallery.

Kabar24.com, UBUD--Damping Gallery menggelar menggelar pameran seni rupa akhir tahun bertajuk 'Transcending Myth and Reality: Damping Wooden Reliefs', 28 Desember 2017 hingga 28 Januari 2018.

Pemilik Damping Gallery Wayan Sutarma mengatakan karya kolaboratif dalam pameran ini disiapkan sekitar 2 tahun melibatkan 28 seniman pilihan untuk mengerjakan sketsa, ukiran, pewarnaan, dan finishing pigura.

“Kami ingin menyajikan karya-karya yang lebih dari stilisasi seni rupa tradisional Bali, tetapi memaknainya lebih jauh dengan menggunakan media papan kayu dengan ukiran detail tiga dimensi,” katanya, Senin (25/12/2017).

Menurut Wayan Sutarma tema yang diangkat dalam karya-karya ini bersumber dari wiracarita Ramayana, Mahabharata, Tantri, dan Pan Brayut yang mewakili cerita rakyat Bali. Bukan hanya cerita, tetapi nilai filosofis dalam karya ini masih relevan hingga masa kini.

Pengamat seni rupa Jean Couteau dalam katalog pameran menuliskan karya seni ini terbilang genre seni baru: panel-panel yang tidak bisa diklasifikasikan sepenuhnya sebagai seni ukir atau seni lukis. Panel tersebut memadukan secara magis kedua genre ini, sehingga layak disebut juga, selain seni lukis, sebagai seni ukir.

“Realisme yang diperlihatkan pada penggambaran ukiran pada papan kayu tersebut memadukan dengan indah tradisi akademik Barat dan tradisi asli Bali” katanya.

Pada awalnya ini merupakan ide I Wayan Sutarma yang menyebut Gaya Ubud yang juga dikenal sebagai Pita Maha, dianggapnya telah menemui jalan buntu dan perlu generasi pembaharu berikutnya.

Hasilnya adalah panel atau relief kayu yang akan dipamerkan tersebut. Wayan mengajak I Gede Ngurah panjji, seniman muda lulusan Universitas Aix-Marseille membuat sketsa di atas papan kayu merbau dan jati. Kemudian dilanjutkan oleh tukang ukir, seniman pemberi warna, dan parakit pigura khusus.

Lantas siapa pencipta karya ini? Ini suatu pertanyaan penting, dan barangkali lebih tepat ditanyakan: siapa para-senimannya, karena panel perpaduan antara lukisan dan ukiran ini tidak mungkin ada tanpa kolaborasi kreatif dari sejumlah seniman.

Penggabungan berbagai bakat untuk menghasilkan karya seni merupakan hal yang khas terdapat dalam kreativitas Bali, apalagi menyangkut seni ukir. Dalam panel-panel kayu yang dipamerkan sekarang ini tidak kurang dari empat kelompok seniman terlibat di dalam pembuatannya.

Antropolog dari IHDN Denpasar Prof. I Nengah Duija mengatakan Wayan Sutarma dengan karya khasnya ukiran pandil berdimensi vertikal dan horizontal menampilkan ruang diskusi interpretatif dari berbagai sudut pemaknaan. Karya ini memberikan makna jauh lebih ke “dalam” logika-religiousitas.

Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai ruang estetika metafisika atau teo-estetik, agar penikmat karya mampu meneropong roh yang terhanyut oleh keindahan (langö) dengan objek ritual religious-magis, yaitu penyucian sang diri (katharsis). Di sanalah karya estetika pandil ini telah masuk pada ruang kesunyian (suwung).

"Sungguh karya-karya ini menyediakan ruang yang sangat luas dan mendalam kepada penikmat untuk masuk meneropong kedalaman teo-estetik dari sebuah tampilan wiracarita yang berbeda dengan karya-karya sejenis yang penah ada,” katanya.

Tag : galeri seni
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top