Pemimpin Kristen Palestina Mencela Keputusan Trump

Pemimpin umat Kristiani di Palestina menyatakan penolakan atas pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibukota Israel dan menyebut keputusan tersebut "berbahaya" dan "menghina".
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 Desember 2017  |  16:29 WIB
Pemimpin Kristen Palestina Mencela Keputusan Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - Reuters

Kabar24. com, BETLEHEM--Pemimpin umat Kristiani di Palestina menyatakan penolakan atas pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibukota Israel dan menyebut keputusan tersebut "berbahaya" dan "menghina".

Pernyataan yang dilontarkan Trump 6 Desember 2017 silam telah memicu protes di seluruh negara Muslim dan mendapat kecaman internasional.

Atallah Hanna, uskup agung gereja Ortodoks Yunani Yerusalem, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa langkah AS telah menyinggung umat Kristiani dan Muslim di seluruh dunia yang menganggap Yerusalem sebagai warisan spiritual dan lokasi bersejarah yang dianggap suci.

"Kami, orang-orang Palestina, Kristen, dan Muslim menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel," ujarnya Sabtu (23/12/2017).

Pernyataannya muncul sesaat sebelum umat Kristiani Palestina ikut serta dalam perayaan malam natal.

Dikutip melalui koresponden Al-Jazeera Hoda Abdel-Hamid di Bethlehem, banyak umat Muslim yang turut menghadiri acara tahunan tersebut untuk menunjukkan solidaritas melawan keputusan Trump.

"Pesan persatuan ini adalah hal yang sangat ingin ditunjukkan oleh orang Palestina, terutama saat ada krisis politik yang melanda daerah ini seperti badai," katanya.

Maher Canavati, anggota dewan lokal Bethlehem, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perayaan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan "pesan damai, cinta dan pengertian".

"Kami menginginkan perdamaian dengan tetangga kita [tapi] kita harus bisa berbagi Yerusalem dan memiliki akses mudah ke Yerusalem sebagai orang Palestina [juga]," ujarnya.

Betlehem, yang biasanya dipenuhi turis menjelang natal, terlihat sepi pengunjung dalam beberapa hari terakhir karena adanya konfrontasi antara pasukan Israel dan pemrotes dari Palestina setelah mendengar keputusan AS tersebut.

"Sayangnya, setelah pernyataan Donald Trump banyak orang tidak yakin tentang keamanan di daerah ini. Banyak dari mereka yang berada di negara tersebut tidak sampai di Bethlehem, mereka tinggal di Yerusalem dan di bagian utara negara tersebut , "kata Canavati.

"Tapi kita di sini sedang merayakan, menyambut semua orang. Sangat penting bagi kita bahwa semua orang Kristen yang datang ke Betlehem dan mendukung komunitas Muslim dan Kristen akan kita jaga," ujarnya.

Di Jalur Gaza, umat Kristiani Palestina mengadakan sebuah penjagaan untuk mengungkapkan dukungan mereka terhadap Yerusalem sebagai ibukota Palestina.

Malcolm Webb dari Al Jazeera, yang melaporkan dari wilayah yang terkepung tersebut, mengatakan bahwa kemarahan atas keputusan Trump terbagi antara umat Kristiani dan umat Muslim-mayoritas yang tinggal di atas tanah terkepung.

"Semua orang yang kita ajak bicara di sini bertentangan dengan tindakan AS, dan mereka mengatakan bahwa hal itu hanya menambah frustrasi kehidupan di sini," katanya.

Israel telah memblokade Jalur Gaza yang sebelumnya ditempati oleh warga Palestina selama lebih dari 10 tahun.

Isolasi Gaza telah menghancurkan ekonominya, memiskinkan sebagian besar dua juta orang di Jalur Gaza, dan meninggalkannya tanpa pasokan listrik, air dan kesehatan yang memadai. Sejak 2007, Israel telah meluncurkan tiga perang melawan Jalur Gaza.

Sekitar 1.000 orang Kristen tinggal di Jalur Gaza, kurang dari setengah jumlah 10 tahun yang lalu.

Menurut sosiolog Samir Quta, banyak keluarga Kristen telah meninggalkan Gaza dalam beberapa tahun terakhir untuk mencari keamanan diri dan keamanan finansial.

"Keluarga Kristen di Gaza biasanya memiliki tingkat sosio-ekonomi yang tinggi, dan semakin banyak orang memiliki pilihan dan uang, semakin mereka mencari kehidupan yang lebih baik," katanya.

"Ini tidak tersedia di Gaza, bahkan dengan uang di Gaza, Anda tidak bisa memiliki kehidupan yang baik," tambagnya.

Rosette Saygh, seorang Kristen yang masih tinggal di Gaza, mengatakan kehidupan di wilayah tersebut telah menjadi seperti "penjara" bagi mereka yang tertinggal.

"Hidup sangat sulit di Gaza, kita hidup dalam pengepungan dan kita tidak bisa bergerak ke mana-mana ... Kita telah menyaksikan banyak perang, selama pemboman kita harus tidur di gereja untuk keselamatan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump, Jerusalem

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top