Sukamdani Sahid Tutup Usia, Ini Riwayat Hidupnya Hingga Menjadi Pengusaha Nasional

Sukamdani tidak ingin menjadi pengusaha biasa di Tanah Air. "Saya ini muslim, tiap ada penghasilan, paling tidak setelah bayar pajak, saya beri zakat, paling tidak ditambah lagi sebagai pengusaha muslim tak boleh serakah," ungkap Sukamdani empat tahun silam.
Novita Sari Simamora | 21 Desember 2017 14:05 WIB
Chairperson and President Sahid Group Sukamdani Sahid Gitosardjono - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--Pegawai negeri yang sukses menjadi pengusaha, sekaligus pemilik media Bisnis Indonesia Sukamdani Sahid Gitosardjono meninggal dunia pada usia 89 tahun.

Sebelum sukses sebagai pengusaha media dan properti, Sukamdani mengawali karier sebagai pegawai negeri pada usia 17 tahun, tepatnya pada 1945. Kantor pertama Sukamdani berada di Kecamatan Kota, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Lalu, ia pun sempat menjadi anggota staf pemerintah militer Kabupaten Sukoharjo KDM/BODM Divisi III Diponegoro. Setelah berkarier selama 7 tahun di Kabupaten Sukoharjo, ia pun berhasil menjadi pegawai negeri Kementerian Dalam Negeri di Jakarta pada usia 24 tahun.

Keberadaan Sukamdani di Jakarta pun menjadi langkah pertama membangun bisnis percetakan. Pada 1952-1955, ia memulai bisnis Perusahaan Percetakan & Penerbitan NV Harapan Masa di Jakarta.

Dua puluh tahun kemudian, Sukamdani pun dipercaya menjadi Anggota Badan Penasihat 'Nasional Hotel Institute' Bandung pada 1973. Setahun kemudian, tanggung jawab baru itu menjadi peluang bagi Sukamdani untuk meluncurkan Hotel Sahid.

Pada 1976-1979, Sukamdani menjadi Ketua Bidang Pariwisata Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. Pada 1979-1982, ia menjabat sebagai Ketua Kadin Indonesia Kompartemen Jasa.

Memiliki usaha Hotel Sahid semakin memperkuat peran Sukamdani dalam industri perhotelan di Indonesia. Pada 1979-1981, Sukamdani pun menjadi Presiden Asia Australia Hotel & Restaurant Association (AAHRA).

Pada 1981, Sukamdani pun menjadi Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI). Pada 1982-1985 dan 1985-1988, Sukamdani dipercayakan menjadi Ketua Umum KADIN Indonesia dalam dua masa bakti.

Pada 14 Desember 1985, Sukamdani pun mendirikan perusahaan penerbitan Harian Bisnis Indonesia bernama PT Jurnalindo Aksara Grafika.

Dalam buku Sejarah Perjalanan Hidup Meraih Prestasi, Wujud Sebuah Bakti, Sukamdani menuliskan bahwa Bisnis Indonesia adalah suratkabar yang fokus pada ekonomi dan bisnis, sebab media ekonomi-bisnis sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan bisnis. Lalu

Setelah sukses mendirikan Bisnis Indonesia, ia pun menerbitkan Harian Solopos melalui PT Akasara Solopos yang diresmikan pada 19 September 1997.

Pada 10 Februari 2000, Sukamdani bersama pendiri Harian Bisnis Indonesia menerbitkan PT Aksara Warta Mandarin bernama Indonesia Shangbao. Setelah Harian Solopos disambut baik oleh pembaca, maka PT Radio Solo Audio Utama (Solopos FM) didirikan pada 12 April 2004.

Sukamdani tidak ingin menjadi pengusaha biasa di Tanah Air. "Saya ini muslim, tiap ada penghasilan, paling tidak setelah bayar pajak, saya beri zakat, paling tidak ditambah lagi sebagai pengusaha muslim tak boleh serakah," ungkap Sukamdani empat tahun silam.

Bagi Sukamdani, dengan membantu orang lain yang membutuhkan, maka rejeki akan semakin bertambah dan berkah semakin melimpah. Menurutnya, dengan berbagi kepada sesama manusia maka bahagia lahir dan batin akan tercipta.

Sukamdani selalu melibatkan istrinya, Juliah Sukamdani dalam setiap aktivitasnya. Ia pun pernah melalui masa-masa terberat.

"Pengalaman paling berat, dengan ibu [Juliah] pada waktu krisis 1998, ibu yang menjadi penanggung jawab keuangan dan saya penanggung jawab seluruhnya. Bagaimana kita bisa menyelamatkan perusahaan, oleh karena itu, kita berusaha mengalirkan pinjaman-pinjaman kepada pihak perbankan dan pihak ketiga baik dalam negeri maupun dalam negeri," ungkap Sukamdani.

Sukamdani lahir di Solo pada 14 Maret 1928. Ia memiliki dua putra dan tiga putri. Sukamdani sangat memegang teguh budaya Jawa. Baginya, hidup sangat sederhana. "Berhentilah makan sebelum kenyang, karena itu bagus untuk kesehatan."

Jenazah Sukamdani disemayamkan di Rumah Duka, Jalan Imam Bonjol Nomor 50 Jakarta Pusat. Pemakaman ba'da Ashar,di Pondok Pesantren Modern Sahid, Jalan Dasuki Bakri Km 6, Kecamatan Pamijahan. Bogor.

Tag : sukamdani
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top