‘Surat Sakti’ Novanto Tunjuk Azis Syamsudin Ketua DPR Merupakan Surat Pribadi

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro mengatakan bahwa surat sakti Ketua DPR Setya Novanto yang menunjuk Azis Syamsuddin sebagai pengganti dirinya merupakan sebuah putusan pribadi yang bertentangan dengan mekanisme partai politik yang seharusnya.
John Andhi Oktaveri | 11 Desember 2017 13:13 WIB
Ketua Banggar DPR sekaligus Ketua DPP Golkar Azis Syamsuddin (kanan) meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Senin (27/11). Azis Syamsuddin diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi penyelidikan megaproyek KTP elektronik untuk tersangka Ketua DPR Setya Novanto. ANTARA FOTO - Reno Esnir

Kabar24.com, JAKARTA - Pengamat politik LIPI Siti Zuhro mengatakan bahwa ‘surat sakti’ Ketua DPR Setya Novanto yang menunjuk Azis Syamsuddin sebagai pengganti dirinya merupakan sebuah putusan pribadi yang bertentangan dengan mekanisme partai politik yang seharusnya.

Menurut Siti mekanisme penunjukkan seorang kepala lembaga tinggi negara, termasuk DPR, tidak bisa main-main atau berupa keputusan pribadi. Apalagi, surat itu dikeluarkan oleh seseorang yang tengah bermasalah dengan hukum.

Siti mengatakan keputusan itu tidak aspiratif juga tidak mewakili semua pihak di dalam tubuh Partai Golkar.

“Surat sakti Pak Novanto itu merupakan surat pribadi, tidak mewakili Golkar. Ini seperti one man show, main-main karena ditenukan oleh satu orang,” ujarnya, Senin (11/12/2017).

Pada bagian lain Siti Zuhro juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Novanto juga akan ikut merugikan Azis Syamsuddin sendiri. Pasalnya, tidak semua unsur di Golkar akan menerima politisi muda yang kini menjadi Ketua Badan Anggaran DPR tersebut.

Artinya Azis akan terimbas dari dampak permainan Novanto.

Siti Zuhro mengatakan kalau kondisi kisruh di tubuh Golkar terus dibiarkan maka dikhawatirkan partai yang pada pemilu lalu mampu meraih suara sekitar 14% bisa terpuruk menjadi partai kelas menengah.

Dikatakan, bukan tidak mungkin partai itu akan kehilangan separuh dari suaranya pada pemilu lalu atau meraih sekitar 7% kalau kepercayaan publik terus tergerus akibat berbagai persoalan yang terus mendera partai itu.



Tag : setya novanto, partai golkar
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top