Progres PLTS Jakabaring Capai 62%

Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 2 megawatt di Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, terus dikebut.
Dinda Wulandari | 27 November 2017 14:35 WIB
Foto aerial stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) yang berada di kompleks olahraga Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (30/6/2017). - Antara/Nova Wahyudi

Kabar24.com, PALEMBANG - Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 2 megawatt di Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, terus dikebut untuk mengejar deadline dari Pemerintah Jepang hingga akhir tahun ini. Progres pengerjaan fisik proyek tersebut sudah mencapai 62%.       

Direktur Utama Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE), Yaniarsyah, mengatakan pembangunan PLTS telah menyelesaikan seluruh fondasi panel surya.

"Saat ini pengerjaan  berupa pemasangan TV modul, transmisi dan persiapan lainnya. Sejauh ini sesuai dengan progres," ujarnya di Palembang pada Senin (27/11/2017).

Oleh karena itu, Yaniarsyah mengatakan, pada akhir November konstruksi PLTS sudah selesai dan pada Januari sudah bisa operasional.  "Dengan begitu, pada saat Asian Games listrik yang digunakan sudah green," sebutnya.

Menurutnya, pembangunan PLTS ini merupakan upaya untuk penerapkan konsep Green City dan juga green Asian Games.

Dengan dibangunnya PLTS di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) ini diharapkan dapat memasok kebutuhan listrik untuk Asian Games 2018 juga dapat mendukung penerapan pembangunan ramah lingkungan provinsi. 

"Pembangunan ini pula dapat menghasilkan listrik 2 MW juga mampu untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1.303 ton per tahun," katanya.

Dia memaparkan project PLTS di Jakabaring ini memang tidak besar hanya 2 mw. Namun demikian ke depan akan terus kembangkan.

Tentu untuk pengembangan ini paling penting adalah lahan. PLTS Jakabaring ini menggunakan lahan 2,3 ha di samping tentunya perlu investasi.

"Nantinya energi dihasilkan akan dijual PT PLN dan ini sudah ada kesepakatan tapi berapa harga per kWh nya, tentu sesuai dengan aturan kementerian ESDM," ucap Yaniarsyah.

Sementara itu, Dicky Edwin Hindarto, kepala Sekretariat Joint Crediting Mechanism (JCM), menambahkan proyek PLTS Jakabaring ini adalah salah satu dari 29 proyek JCM yang diimplementasikan di Indonesia.

Pihaknya telah mengembangkan PLTS serupa di Jakarta, namun kapasitasnya tidak sebesar di Palembang.

Bahkan, tidak hanya tenaga surya, tetapi juga telah membangun listrik efisien seperti bangunan industri dengan panas buang dengan kapasitas 35 MW. "Tentu energi green serupa akan terus kembangkan untuk mewujudkan energi yang ramah lingkungan."

Hingga saat ini, kata dia, total investasi pelaksanaan JCM antara pemerintah Jepang dan Indonesia mencapai US$150 juta dengan US$113 juta berasal dari investasi pihak swasta Jepang dan Indonesia dan USW37 juta merupakan subsidi yang disampaikan Pemerintah Jepang.

"Proyek PLTS Jakabaring menelan investasi US$3 juta. Oleh karena itu, agar ada percepatan untuk mengejar batas waktu yang diberikan pemerintah Jepang hingga akhir Desember,”

Dia menambahkan PLTS ini dapat menjadi contoh yang baik bagaimana implementasi green technical pada venue olahraga dan kedepan juga diharapkan akan memberikan dampak positif bukan hanya pada daerah setempat tetapi juga pencapaian target nasional untuk pengurangan emisi gas rumah kaca.

"Kami akan terus meningkatkan skema JCM dengan upaya peningkatan investasi, pengembangan berbagai instrumen teknis serta peningkatan peran swasta," ujar Dicky.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumsel Robert Heri mengatakan energi fosil sudah sangat berkurang dan kapasitasnya pun mulai terbatas. Ini tentu harus diantisipasi dengan memaksimalkan tenaga terbarukan seperti air, tenaga surya, dan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Asian Games 2018, jakabaring

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top