BOJ Berpeluang Ubah Kebijakan Moneternya

Salah satu anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Hitoshi Suzuki mengatakan, otoritasnya tetap memiliki peluang untuk mengubah kebijakan moneternya, kendati laju inflasi belum mencapai target 2%.
Yustinus Andri DP | 27 November 2017 21:30 WIB
Bank Sentral Jepang - bizdaily.com.sg

Kabar24.com, JAKARTA—Salah satu anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Hitoshi Suzuki mengatakan, otoritasnya tetap memiliki peluang untuk mengubah kebijakan moneternya, kendati laju inflasi belum mencapai target 2%.

Suzuki mengatakan, otoritasnya masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter, terutama dalam pengendalian kurva imbal hasil obligasi nasional (YCC). Seperti diketahui, BOJ menetapkan kurva imbal hasil obligasi pada kisaran 0%.

Menurutnya, beberapa cara dapat dilakukan di antaranya dengan memperlambat atau mengubah metode pembelian reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek (ETF). Di sisi lain, dia juga menyatakan bahwa terdapat peluang bagi BOJ untuk mengerek tingkat suku bunganya meskipun inflasi belum mencapai targetnya.

"Tidak tepat jika suku bunga tidak akan menunjukkan perubahan sampai inflasi mencapai target 2%,” kata Suzuki, seperti dikutip dari Reuters, Senin  (27/11).

Baginya, perubahan kebijakan moneter seperti penyesuaian YCC dan kenaikan suku bunga secara terbatas sebelum target inflasi akan membantu para pelaku pasar melakukan penyesuaian.

Pasalnya, apabila kebijakan  moneter Jepang langsung diubah pascainflasi mencapai target, pasar akan kaget dan kesulitan menerima perubahan yang drastis.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil pertemuan terkahir Dewan Gubernur BOJ pada bulan lalu, suku bunga jangka pendek Jepang masih ditetapkan pada level -0,1%. Sementara itu Bank Sentral Jepang juga memutuskan untuk menahan yield obligasi pemerintah bertenor  10 tahun pada kisaran 0%.

Pernyataan Suzuki ini bertolak belakang dengan Anggota Dewan Gubernur BOJ yang lain yakni Goushi Kataoka. Pasalnya dia menjadi salah satu pejabat BOJ yang menyatakan bahwa Negeri Sakura memerlukan pelonggaran moneter tambahan,

Dia juga berharap kepada anggota Dewan Gubernur BOJ yang lai untuk bersiap  menambah kembali dosis stimulus moneter melalui pembelian obligasi. Hal itu dirasa perlu olehnya untuk menjaga imbal hasil obligasi jangka panjang Jepang pada level yang rendah.

Kataoka menambahkan BOJ harus terus membeli obligasi pemerintah sehingga imbal hasil surat utang bertenor 15 tahun tetap di bawah level 0,2%.

Adapun, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda dalam beberapa kesempatan terus menegaskan bahwa pihaknya akan terus mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasalnya, dia menilai laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang berhasil menunjukkan penguatannya sepanjang tahun ini, berpotensi gagal menunjukkan kelanjutannya pada tahun depan.

Untuk itu dia menganggap, sokongan dari sisi moneter masih sangat dibutuhkan terutama untuk menggapai target inflasi 2%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang, bank sentral jepang

Sumber : Reuters
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top