Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Survei Indikator Politik: Gatot Nurmantyo & Ahok Teratas di Bursa Cawapres 2019

Mayoritas pemilih Presiden Joko Widodo masih mengidamkan sang calon petahana berpasangan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pemilihan Presiden 2019.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 11 Oktober 2017  |  21:20 WIB

Kabar24.com, JAKARTA — Mayoritas pemilih Presiden Joko Widodo masih mengidamkan sang calon petahana berpasangan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pemilihan Presiden 2019.

Namun, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dinilai sebagai kandidat calon wakil presiden yang paling memberikan dampak elektoral bagi Jokowi. Peluang Gatot digadang-gadang semakin besar setelah berbagai manuvernya akhir-akhir ini.

Dalam survei anyar Indikator Politik Indonesia (IPI), nama Ahok dan Gatot menduduki dua besar dalam simulasi 16 dan 8 nama kandidat cawapres. Ketika diberikan 16 pilihan, responden pemilih Ahok dan Gatot masing-masing 16% dan 10%.

Tatkala dikerucutkan menjadi 8 nama, keduanya memperoleh dukungan berturut-turut 17% dan 14%. Namun, ketika IPI menyisihkan nama Ahok maka Gatot mendapatkan 25% suara, diikuti Menteri Keuangan Sri Mulyani sebesar 24% dan Kepala Polri Jenderal Pol. Tito Karnavian 12%.

Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi menuturkan alasan IPI menyisihkan nama Ahok dalam simulasi tiga nama lantaran pemilihnya beririsan dengan Jokowi. Buktinya, dalam beberapa simulasi dukungan terhadap Ahok hanya berkisar 17%.

“Basis massa Ahok tidak menambah suara Jokowi. Pro Ahok kemungkinan pro Jokowi,” katanya usai konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Sebaliknya, Burhanuddin mengatakan suara Gatot semakin tinggi ketika pilihan nama cawapres dikerucutkan. Pemilih mantan Kepala Staf TNI AD itu adalah kelompok masyarakat yang selama ini tidak mendukung Jokowi.

“Kalau kemudian Gatot dipasangkan sama Jokowi, tentu Jokowi diuntungkan,” tuturnya.

Selain masuk dalam bursa cawapres, Gatot juga mendulang suara sebagai kandidat capres. Dari simulasi terbuka atau jawaban spontan, Gatot dipilih 0,7% responden. Pemilihnya makin melonjak ketika simulasi 40 nama, 8 nama, dan 6 nama calon. Berturut-turut dia mendapatkan 1,7%, 2,8%, dan 6%.

Elektabilitas Gatot selalu berada di bawah Jokowi, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan.

Burhanuddin menjelaskan pendukung Gatot berasal dari kelompok Islam modernis dan Sumatra yang beririsan dengan pendukung Prabowo. Jika ditilik basis massa partai, potensi pemilih Gatot berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, dan Partai Persatuan Pembangunan.

“Basis massa PKS yang pada Pilpres cenderung mendukung Prabowo lari ke calon lainnya. Salah satunya Gatot,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, elektabilitas riil Gatot berpotensi lebih besar karena survei IPI merekam pendapat masyarakat hanya sampai 24 September 2017. Padahal, manuver pria asal Tegal itu semakin kencang pada 30 September melalui isu adanya kebangkitan PKI.

Survei IPI dilakukan pada 17-24 September 2017 melalui wawancara tatap muka dengan 1.220 responden. Mereka dipilih secara acak dari populasi yang memiliki hak pilih dalam pemilu. Marjin kesalahan rata-rata dari survei sebesar plus-minus 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi wakil presiden
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top