Jerman Larang Pasukan Pengamanan Erdogan Turut Hadiri G20

Jerman tidak mengharapkan petugas keamanan dan polisi yang dituduh melakukan penyerangan terhadap pengunjuk rasa di Washington untuk menyertai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada konferensi tingkat tinggi G20 pekan depan di Hamburg.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 28 Juni 2017  |  03:15 WIB
Jerman Larang Pasukan Pengamanan Erdogan Turut Hadiri G20
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Kabar24.com, BERLIN -- Jerman tidak mengharapkan petugas keamanan dan polisi yang dituduh melakukan penyerangan terhadap pengunjuk rasa di Washington untuk menyertai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada konferensi tingkat tinggi G20 pekan depan di Hamburg.

Dakwaan terhadap beberapa pengawal Erdogan muncul menyusul bentrokan pada 16 Mei dalam lawatan pemimpin Turki itu ke ibu kota Amerika Serikat bulan lalu. Dalam insiden tersebut, sembilan orang terluka di luar kediaman duta besar Turki.

Insiden ini mengganggu hubungan AS-Turki pada saat para sekutu NATO berbeda pendapat mengenai kebijakan di Suriah. Tak hanya kasus itu juga berisiko memicu kerusakan hubungan dengan Berlin yang memang sudah terganggu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman Martin Schaefer mengatakan, para pemimpin asing disambut baik membawa pengawalnya ke pertemuan-pertemuan di Jerman, tetapi hukum harus dihormati.

"Saya punya alasan mengharapkan orang-orang ini, yang telah terkena (sistem) peradilan kejahatan Amerika tidak akan menginjakkan kaki di tanah Jerman di masa yang akan datang, termasuk KTT G20," ujarnya, seperti dikutip Reuters, kemarin. ,

Pemerintah di Ankara telah mengecam dakwaan-dakwaan tersebut dan mengatakan, warga negara Turki, yang bertolak dari AS bersama Erdogan, hendaknya jangan dimintai tanggung jawab atas insiden tersebut.

Turki adalah anggota G20 dan Erdogan djadwalkan akan menghadiri KTT grup itu yang diadakan pada 7-8 Juli di Hamburg. Hubungan Turki dan Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya memburuk menjelang referendum Turki pada 16 April. Hasil referendum memberi Erdogan kekuasaan-kekuasaan kepresidenan yang lebih kuat.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertemuan G20

Sumber : Reuters

Editor : Gajah Kusumo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top