Trump Paksa Pejabat Intelijen Bantah Tim Kampanyenya & Rusia Berkolusi

President Donald Trump memaksa dua pejabat intelijen senior untuk membantah secara terbuka adanya bukti kolusi antara tim kampanyenya dengan pihak Rusia.
John Andhi Oktaveri | 23 Mei 2017 10:39 WIB
Presiden AS Donald Trump - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA -- President Donald Trump memaksa dua pejabat intelijen senior untuk membantah secara terbuka adanya bukti kolusi antara tim kampanyenya dengan pihak Rusia.

Demikian diungkap oleh harian Washington Post sebagaiman mengutip sejumlah pejabat dan manan pejabat AS, Selasa (23/5/2017).

Selama masa kampanye presiden AS, sebagian kalangan mencurigai hubungan antara tim kampanye Trump dengan pihak intelijen Rusia terkait dengan bocornya email pribadi Hillary Clinton. Tudingan itu terutama disampaikan oleh tim kampanye Hillary Clinton yang menjadi pesaing Trump pada Pilpres tahun lalu.

Direktur Badan Intelijen Nasional Dan Coats dan Badan Keamanan Nasional Michael Rogers dilaporkan menolak untuk mematuhi perintah Trump untuk melakukan bantahan terbuka tersebut sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (23/5). Pasalnya, mereka percaya hal itu tidak pantas untuk dilakukan, menurut dua pejabat yang tidak mau disebutkan namanya sebagimana dikutip harian tersebut.

Sebelumnya disebutkan bahwa seorang penasihat kebijakan luar negeri untuk kampanye presiden Donald Trump telah bertemu dengan intelijen Rusia pada 2013. Sang penasihat disebut memberikan dokumen tentang industri energi.

Victor Podobnyy, seorang warga Rusia, adalah salah satu dari tiga pria yang didakwa sehubungan dengan jaringan mata-mata gaya perang dingin Rusia.

Menurut dokumen pengadilan, Podobnyy mencoba merekrut Carter Page, konsultan energi yang bekerja di New York pada saat itu, sebagai sumber intelijen. Pria bayaran itu disebut dalam pengajuan sebagai Male-1.

Dia sempat menjabat sebagai penasihat kebijakan luar negeri untuk kampanye Trump meski dia memisahkan diri dari kampanye sebelum pemilu. Gedung Putih menegaskan bahwa Trump tidak ada hubungan dengan pria Rusia itu.

 

Tag : Donald Trump
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top