Jabar Minta Ada Tenaga Kerja Lokal di 3 Proyek Pembangkit Listrik

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong agar tiga proyek pembangkit listrik yang proses konstruksinya hendak berjalan merekrut tenaga kerja lokal saat beroperasi nanti.
Maman Abdurachman/Hedi Ardhia/Wisnu Wage
Maman Abdurachman/Hedi Ardhia/Wisnu Wage - Bisnis.com 19 Mei 2017  |  18:29 WIB
Jabar Minta Ada Tenaga Kerja Lokal di 3 Proyek Pembangkit Listrik
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong agar tiga proyek pembangkit listrik yang proses konstruksinya hendak berjalan merekrut tenaga kerja lokal saat beroperasi nanti.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan tiga proyek tersebut yakni PLTU Indramayu dan PLTU Unit 2 Cirebon serta PLTA Upper Cisokan, Bandung Barat. Permintaan ini disampaikan pihaknya pada GM Distribusi PLN Jawa Barat dan Banten. “PLN melaporkan perkembangan proyek pembangkit tersebut,” katanya pada bisnis di Bandung, Jumat (19/5/2017).

Mengingat tiga proyek ini ada yabg sudah berjalan, pihaknya menekankan agar PLN mulai memberi tempat pada para tenaga kerja lokal. PLN menurutnya diminta untuk segera menyiapkan kriteria dan klasifikasi apa yang harus dipenuhi SDM lokal tersebut. “Dengan klasifikasi yang tepat, maka pemerintah daerah bisa menyiapkan dari sekarang, karena waktu operasinya 3 tahun lagi,” katanya.

Iwa menunjuk kesiapan SDM lokal paling mungkin ada di proyek PLTU 2 Indramayu. Pihaknya berencana mendorong agar Bupati Indramayu mengajukan surat permohonan resmi ke Pemprov Jabar yang kemudian akan diteruskan ke direksi PLN. “Jadi kami akan meminta informasi tenaga madya apa saja yang tenaga kerjanya bisa direkrut dari Indramayu,” tuturnya.

Jika PLN memberi peluang, selanjutnya Pemkab Indramayu akan mendorong dalam waktu 3 tahun ke depan penyiapan pendidikan SDM-nya. Pola yang sama menurutnya bisa dilakukan di PLTU unit 2 Cirebon dan Upper Cisokan. “Khusus Cirebon karena ini swasta, maka pola klasifikasinya mungkin sama, masyarakat Cirebon juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurutnya untuk Upper Cisokan, meski tidak ditangani secara khusus oleh PLN, saat ini perkembangan pembangunan fisiknya baru mencapai 30%. Sementara untuk PLTU Cirebon 2 yang akan dibangun oleh konsorsium PT Cirebon Energi Prasarana sudah mulai melakukan persiapan pembangunan fisik. “Satu lagi yang dikerjakan PLN dengan dukungan Jepang ada di Indramayu sebesar 2x 1.000 MW,” paparnya.

PLTU 2 Indramayu sendiri saat ini tengah memproses persiapan pembebasan lahan dibantu Pemprov dalam urusan tata ruang dan administrasi pembebasan lahan. “PLTU ini menjorok ke laut, pembangunannya sama dengan Cirebon menjorok ke laut dan memakai batu bara ramah lingkungan,” katanya.

Terpisah, Wakil Bupati Indramayu Supendi memastikan, Indramayu mempunyai sumber daya manusia mumpuni yang nantinya bisa dilatih di Balai Latihan Kerja (BLK) disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. “Mereka tinggal bilang ingin tenaga kerja dengan kompetensi seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, tenaga kerja yang siap dipekerjaakan untuk produk dari BLK negeri sekitar 650 orang setiap tahunya dan itu belum menghitung BLK swasta. “Kemarin kita dari 70 orang yang mengikuti pemagangan ke Jepang sekitar 40 orang Alhamdulilah diterima,” katanya.

Sementara perkembangan pembangunan upper & lower dam, power house dan saluran air dan jalur transmisi 500 kV untuk proyek Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan 4 x 260 MW di Kabupaten Bandung Barat sendiri tertunda akibat persoalan teknis yang belum diselesaikan.

General Manager PLN UIP Jawa Bagian Tengah I, Anang Yahmadi enggan menjelaskan secara rinci penyebab mandeknya proyek inti dari pelaksanaan pembangkit listrik berbasis air tersebut. Intinya, persoalan terletak di pihak kontraktor bukan dari pihak PLN.

"Masalahnya macam-macam. Maaf saya tidak bisa menginfo lebih dalam. Yang jelas kontraktornya tidak mau mulai bekerja," katanya, kepada Bisnis.

Rencananya, untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan perlu dibangun interkoneksi ke jaringan transmisi jawa-bali. Interkoneksi yang akan dibangun adalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500kV.

Jaringan tersebut akan dibangun dua jalur SUTET ke arah utara yang terhubung dengan jalur SUTET Cibinong-Saguling (jarak masing-masing 15,5 km dan 15,9 km), diperlukan sebanyak 82 tower, tinggi tower minimal 30,5 m.

"Dengan kata lain, secara umum pembebasan lahan dengan masyarakat sudah selesai. Kecuali masih ada 19 orang yang belum bersedia dibayar karena menginginkan harga yang tinggi. Mungkin ini pelan-pelan mereka bisa bergerak untuk bersedia dibayar karena warga lainnya sudah membeli rumah baru dari hasil penjualan lahannya," ujarnya.

Sejumlah kontraktor yang ambil bagian dalam proyek antara lain DAELIM Industrial Co. (Korea Selatan), ASTALDI (Italia), dan WIKA telah ditunjuk oleh PLN untuk mengerjakan EPC (Engineering Procurement Construction) PLTA Upper Cisokan.

Total nilai investasi untuk proyek PLTA Upper Cisokan mencapai US$900 juta atau sekitar Rp12 triliun. Dari dana investasi sebesar US$900 juta itu, US$700 juta di antaranya berasal dari utang Bank Dunia dan US$200 juta berasal dari kas PLN sendiri.

Proyek ini ditargetkan bisa beroperasi pada 2019 mendatang. PLN sangat mengandalkan Upper Cisokan yang berkapasitas total 1.040 MW akan menjadi PLTA terbesar se-Indonesia yang saat ini status terbesar di Indonesia masih dipegang oleh PLTA Cirata 1.008 MW. (K3,K6,K57)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pltu cirebon

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top