Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Gratifikasi Pajak, Handang Soekarno Punya Banyak Koneksi di DPR

Handang juga turut membahas materi RUU tentang Perpajakan tersebut. Dalam suatu kesempatan sebelum dibekuk oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia juga turut dalam rapat pembahasan RUU di Bandung bersama dengan Dadang.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 10 Mei 2017  |  14:26 WIB
Gratifikasi Pajak, Handang Soekarno Punya Banyak Koneksi di DPR
Kepala Sub Direktorat Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum di Direktorat Jenderal Pajak Handang Soekarno (tengah) memakai rompi tahanan usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (22/11/2016). - Antara
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA — Terdakwa penerima uang gratifikasi Handang Soekarno diketahui memiliki banyak koneksi dengan para wakil rakyat di Senayan. Hal ini terungkap dalam persidangannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).

Dadang Suwarna, Direktur Penegakan Hukum Ditjen Pajak Kementerian Keuangan yang dihadirkan sebagai saksi mengatakan bahwa Handang diutus sebagai penghubung yang melaksanakan komunikasi informal dengan para wakil rakyat terkait pembahasan Rancangan Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) yang saat itu tengah digodok oleh Direktorat Jenderal Pajak.

“Dia kami jadikan penghubung dalam arti positif karena memiliki banyak kenalan di Senayan jadi bisa komunikasikan apa yang kami inginkan atau kalau ada keluhan apa, meskipun saat itu pembahasan masih dibahas secara internal oleh DJP,” paparnya dalam persidangan.

Handang juga turut membahas materi RUU tentang Perpajakan tersebut. Dalam suatu kesempatan sebelum dibekuk oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia juga turut dalam rapat pembahasan RUU di Bandung bersama dengan Dadang.

Saat di Bandung itu, Handang berinisiatif untuk memperkenalkan Handang dengan Ketua DPR Setya Novanto mengingat Dadang berkeinginan untuk mengikuti seleksi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Akan tetapi ajakan tersebut tidak ditanggapi oleh Dadang karena dia ingin segera kembali ke Jakarta.

Handang ditangkap pada 21 November 2016 seusai menerima uang dalam pecahan dolar AS yang jika dirupiahkan berjumlah Rp1,9 miliar. Uang tersebut merupakan bagian dari total Rp6 miliar yang disepakati sebagai fee atas bantuan Handang mendorong percepatan pembatalan Surat Tagihan Pajak (STP) PT EK Prima Ekspor Indonesia untuk pembelian kacang mete pada 2014 dan 2015 dengan total tagihan mencapai Rp78 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pajak korupsi pajak
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top