Indonesia dan Filipina Pimpin Forum Maritim Asean+8

Indonesia dan Filipina akan memimpin forum internasional kerja sama maritim atar anggota Asean ditambah delapan negara lainnya, termasuk China dan Amerika Serikat, pada kuartal keempat tahun ini di Jakarta.
Newswire | 28 April 2017 06:48 WIB
Penenggelaman kapal akibat aktivitas illegal fishing di perairan Indonesia - Ilustrasi/www.radionz.co.nz

 

Kabar24.com, MANILA - Jakarta akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum internasional bidang kemaritiman.

Terkait itu, Indonesia dan Filipina akan memimpin forum internasional kerja sama maritim atar anggota Asean ditambah delapan negara lainnya, termasuk China dan Amerika Serikat, pada kuartal keempat tahun ini di Jakarta.

"Para pejabat senior (setara direktur jenderal) Asean hari ini sepakat untuk membahas isu kelautan di Jakarta," kata Jose Tavares, Direktur Jenderal Kerjasama Asean Kementerian Luar Negeri Indonesia, pada Kamis malam (27/4) di Manila, kepada sejumlah wartawan.

Isu kemaritiman menjadi salah satu prioritas bagi pemerintahan kabinet kerja Presiden Joko Widodo.

"Forum ini adalah insiatif Indonesia untuk meningkatkan kerja sama maritim baik dari segi keamanan, perlindungan lingkungan, manajemen kawasan, maupun penanganan bencana," kata Tavares.

Keamanan maritim menjadi salah satu persoalan utama di Asia Tenggara. Di kawasan inilah terletak jalur lalu lintas barang utama dunia yang dilewati 50% kapal dagang secara global, Laut China Selatan.

Wilayah yang mengandung cadangan minyak terbukti sedikitnya tujuh miliar barel tersebut kini tengah menjadi subjek sengketa klaim kepemilikan antara China dengan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Selain sengketa wilayah, persoalan keamanan maritim lain di Asia Tenggara adalah perompakan. Selat Malaka yang terletak di Indonesia disebut-sebut sebagai perairan paling berbahaya di dunia karena banyaknya bajak laut.

Sementara itu dari sisi bencana, Asia Tenggara pernah mengalami salah satu tragedi alam paling mematikan dalam sejarah saat tsunami melanda kawasan ini pada 2014 lalu. Lebih dari 170.000 orang tewas di Aceh dan Nias saat itu, sementara 50.000 lainnya juga mengalami nasib yang sama di Thailand.

Persoalan lainnya adalah manajemen kemaritiman. Salah satunya terkait kebijakan keras dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terhadap kapal-kapal pencuri ikan asing banyak menuai protes dari negara-negara lain.

Dalam konteks itulah Indonesia menilai kerja sama maritim di kawasan sangat diperlukan, salah satunya adalah dengan menggelar forum kelautan di Sekretarian Asean di Jakarta.

"Dalam forum ini akan terjadi pertukaran gagasan antara para pengambil kebijakan sekaligus para pakar," kata Jose seusai menghadiri pertemuan para pejabat senior Asean yang merupakan bagian dari koferensi tingkat tinggi organisasi tersebut.

"Di situ akan dibahas bagaimana praktik terbaik dalam merespons bencana, maupun penyikapan terhadap isu-isu global kemaritiman yang tengah terjadi," kata dia

Sumber : Antara

Tag : maritim, asean
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top