Teknologi RISHA Dipakai untuk Rekonstruksi Sekolah di Aceh

Teknologi RISHA atau Rumah Instan Sederhana Sehat akan digunakan dalam rekonstruksi permanen sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Daroessalam (NAD) pada awal Desember 2016.
Emanuel B. Caesario | 20 Desember 2016 19:34 WIB

Kabar24.com, JAKARTA—Teknologi RISHA atau Rumah Instan Sederhana Sehat akan digunakan dalam rekonstruksi permanen sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Daroessalam (NAD) pada awal Desember 2016.

Sebelumnya paska bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh 2004 silam, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau Kementerian PU pada waktu itu juga menggunakan teknologi RISHA dalam rekonstruksi bangunan rusak. Terbukti saat ini bangunan tersebut masih dalam kondisi baik.

"Akan disepakati tipikal desain untuk bangunan permanen bangunan sekolah yang direkonstruksi ini adalah precast concrete mengacu pada standar desain yang disebut oleh Balitbang adalah RISHA, ini sudah teruji di Pidie," tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Danis H. Sumadilaga dalam siaran pers, Selasa (20/12/2016).

Danis bertindak sebagai ketua Satuan Tugas (Satgas) Infrastruktur untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi akibat gempa di Pidie Jaya.

Sebelumnya, Danis mengungkapkan bahwa untuk pembangunan sekolah secara permanen ini akan ditargetkan dapat dilaksanakan pada Februari 2017 sampai Desember 2017, setelah sebelumnya dipasang bangunan sementara untuk para siswa belajar.

Pembangunannya sendiri akan dilakukan oleh beberapa BUMN Karya untuk konstruksi maupun konsultan pengawasnya. BUMN yang terlibat diantaranya adalah Waskita Karya,

Hutama Karya, Adhi Karya, Nindya Karya, Bina Karya, Wijaya Karya, Brantras Abripraya, PP, Waskita, Yodya Karya dan Virama Karya, yang akan dibagi menjadi tiga zona pekerjaan berdasarkan wilayah kerja.

BUMN tersebut, setelah menyepakati desain dan standarisasi bangunan akan langsung melakukan pabrikasi pra cetak untuk selanjutnya melakukan pemasangan.

"Jenis pekerjaannya lebih banyak pabrikasi karena ini untuk menjamin standarisasi, kualitas dan kecepatan," tambah Danis.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Arief Sabarudin mengatakan bahwa pada saat terjadi gempa, pihaknya melakukan pengecekan terhadap bangunan-bangunan yang menggunakan teknologi RISHA di Aceh dan hasilnya bangunan tersebut masih dalam kondisi yang baik.

"Alhamdulillah, yang dibangun 2004 lalu kondisinya masih bagus tidak terganggu oleh gempa, kita juga ada sekolah yang memang dibagun dengan teknologi itu, bahkan kita kaget sebenarnya banyak rumah sementara yang dulu kita bangun sampai sekarang masih dalam kondisi bagus," tambah Arief.

Untuk bangunan kelas sementara pihaknya dan BUMN sepakat untuk membuat ruangan kelas dengan sistem modular dengan metode knock down. Menggunakan baja ringan dan dilakukan dengan prinsip knock down sehingga apabila tidak digunakan lagi masih dapat dimanfaatkan oleh BNPB nantinya.

Ditargetkan kelas-kelas sementara ini sudah dapat terbangun di akhir Januari.

"Sambil teman-teman BUMN siapkan komponen, land clearing dan segala macamnya sudah bisa dilakukan secara paralel. Sehingga kita harapkan pembangunan kelas sementara dapat dilakukan bisa 1-2 minggu paling lama 1 bulan tergantung jumlah kelas," kata Arief.


Berdasarkan data BNPB per 19 Desember 2016 telah teridentifikasi sebanyak 159 sekolah mengalami kerusakan ringan dan berat. Saat ini BNPB telah membersihkan 13 sekolah, 8 diantaranya sudah bersih 100 persen. Sambil menunggu pendataan dan audit teknis di lokasi lain, rekonstruksi akan fokus di 13 sekolah tersebut.

Tag : Gempa Aceh
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top