Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mar'ie Muhammad Wafat, Mr. Clean Kembalikan 'Amplop' Jatah Komisaris

Lahyanto Nadie
Lahyanto Nadie - Bisnis.com 13 Desember 2016  |  04:46 WIB
Upacara pemakaman mantan Menkeu Mar'ie Muhammad - bisnis/Veronika Yasinta
Upacara pemakaman mantan Menkeu Mar'ie Muhammad - bisnis/Veronika Yasinta

Bisnis.com, JAKARTA - Saya tak ingat persis kapan pertama kali berjumpa Mar'ie Muhammad. Entah di Istora Senayan ketika ia berlari-lari kecil yang rutin dilakukannya setiap sore atau pada sebuah kegiatan pelatihan perpajakan di Puncak, Bogor.

Yang jelas, ketika saya mengenakan celana jins saat meliput di Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ia berkomentar panjang. Saking panjangnya seorang staf protokol memelototi saya agar menjauh dari sang menteri.

Padahal, semua wartawan tahu kalau Pak Mar'ie pelit berbicara. Namun soal celana jins itu, ia berbicara panjang lebar. Intinya, "celana jins itu bisa dikenakan kapan dan di mana saja. Pakai kemeja dan sepatu pantopel ini sudah cukup sopan untuk acara resmi," kata Mr. Clean, begitu ia akrab dipanggil.

Bukan hanya soal busana, pria yang menggemari musik klasik itu juga banyak berbicara soal Bisnis Indonesia mulai dari konten, pengaruh koran ekonomi satu-satunya saat itu hingga ekspansi usaha. Ia menyarankan agar Bisnis menerbitkan koran dalam edisi bahasa Inggris. "Namanya bisa Business Circle karena banyak sekali yang membutuhkan informasi ekonomi Indonesia dalam bahasa Inggris."

Koran ini kemudian menerbitkan majalah  mingguan edisi Bahasa Inggris yang bernama Indonesia Business Weekly. Namun usianya tidak lebih dari 5 tahun.

Saya ingat betul ketika harus mengejar Mar'ie untuk mendapat keterangan penting darinya, sering kali ia menghindar sehingga tak keluar satu patah kata pun sebagai jawaban. Jika dia meletakkan telunjuk di mulutnya, pasti tak mau ngomong meskipun didesak dengan berbagai cara.

Cara menghindar pria kelahiran Surabaya, 3 April 1939, itu dari kejaran pers, mulai populer ketika ia menjabat Dirjen Pajak (1988-1993) hingga sebagai Menteri Keuangan Kabinet Pembangungan VI (1993-1998).

Namun tak selamanya penggemar sepak bola itu, pelit bicara. Menjelang pelaksanaan Festival Istiqlal 1995, kami diajak Mar'ie ke Kuala Lumpur untuk meliput acara kerja sama Indonesia dan Malaysia di bidang multifinance. Di sinilah loyalis kesebelasan Assyabaab Surabaya  itu justru boros ngomong. Ia tidak berbicara soal kebijakan pemerintah di bidang keuangan, tetapi soal kegiatan sosial umat Islam. Ia ditugaskan oleh Presiden Soeharto sebagai ketua panitia acara pameran internasional Islami itu, sesuatu yang mewah di zaman Orde Baru.

Sahabat Mar'ie, Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim ketika itu, mendampinginya untuk mencermati perkembangan Islam di Malaysia. Anwar dan Mar'ie bersahabat ketika masing-masing sebagai aktivis Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak 1967, kala Mar’ie sebagai Sekjen dengan Ketua Umum Nurcholis Madjid alias Cak Nur.

Menolak amplop

Selain jujur, citra yang melekat pada sosok Mar'ie adalah bersih dan sederhana. Julukan Mr. Clean yang disematkan oleh kalangan pers karena pejabat itu tak mau disogok. Jangankan sogok, gaji sebagai komisaris yang merupakan hak yang halal pun ditolaknya.

Cerita yang beredar di kalangan wartawan senior begini: Sebagai Menteri Keuangan, Mar'ie berkunjung kerja ke sebuah BUMN kehutanan di Sumatera. Malam sebelum rapat, seorang staf perusahaan mengantarkan cek senilai Rp400 juta ke hotel tempat Mar'ie menginap.

"Itu uang apa?" tanya Menkeu Mar'ie.

"Itu bonus untuk bapak [sebagai komisaris yang mewakili pemerintah]. Sebab laba perusahaan tahun ini sangat baik."

"Oh, letakkan saja di meja itu."

Besok paginya, komisaris Mar'ie hadir dalam rapat BUMN itu, mendengarkan paparan tentang kondisi keuangan perusahaan dengan terinci.

Sebagai akuntan tangguh, Mar'ie bertanya macam-macam detail kinerja finansial kepada direksi yang melaporkan dengan gembira tentang bagusnya kinerja bisnis perusahaan.

Pertanyaan akuntansi Mar'ie  tajam dan gamblang, membuat direksi kewalahan, dan akhirnya sampai pada kesimpulan: perusahaan tahun ini sebetulnya rugi, bukan untung.

"Kalau rugi seperti ini, kenapa perusahaan bisa kasih saya duit 400 juta?"

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Cek Rp400 juta pun dikembalikannya -- dan diterima oleh pemberinya dengan malu, tentu saja. Cerita itu kembali diceritakan oleh Hamid Basyaib, Komisaris Utama PTBalai Pustaka, sehingga ramai di media sosial dan menjadi viral.

Kenangan lain adalah soal kesederhanaan. Rumahnya terbilang sederhana untuk ukuran seorang pejabat tinggi di era Soeharto berkuasa di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, yang ditinggalinya hingga akhir hayat. Setelah shalat ashar pada awal 1990-an, menjelang liputan ke Bandung, kami berangkat mengendarai mobil.

Di Purwakarta, kami mampir di warung makan Sunda yang sederhana. Menunya ikan kali, udang, tempe goreng dan pepes tahu. Mar'ie bersama Ayu Resmayati, sang istri, begitu menikmati. Tampak ia sudah akrab dengan pelayan sekaligus pemilik warung itu.

Perjalanan ke Bandung selain urusan dinas, juga untuk menghadiri wisuda salah satu anaknya di Unversitas Parahyangan. Buah cinta Mar'ie dan Ayu adalah Rifki Muhammad, Rifina Muhammad, dan Rahmasari Muhammad.

Di Bandung, wartawan menginap di hotel, namun Mar'ie dan istri cukup di mess Kantor Pajak. Mr. Clean telah pergi. Ia meninggalkan kejujuran, kesederhanaan dan akhlak mulia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obituari
Editor : Lahyanto Nadie

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top