Takut Dibom, Rakyat Suriah Tolak Rumah Sakit Baru

Rakyat Suriah menolak izin badan bantuan untuk membuka rumah sakit (RS) baru karena khawatir sarana tersebut menarik lebih banyak pengeboman ke kawasan itu, kata badan amal kesehatan negeri itu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Agustus 2016  |  05:02 WIB
Takut Dibom, Rakyat Suriah Tolak Rumah Sakit Baru
Dokumen foto anggota pertahanan sipil dan penolong mendorong sebuah mobil di sebuah lokasi yang terkena serangan udara di kota Idlib, Suriah, Minggu (12/6/2016). Rumah sakit termasuk lokasi yang sering menjadi sasaran bom di Suriah. - REUTERS/Ammar Abdullah

Kabar24.com, LONDON - Rakyat Suriah menolak izin badan bantuan untuk membuka rumah sakit (RS) baru karena khawatir sarana tersebut menarik lebih banyak pengeboman ke kawasan itu, kata badan amal kesehatan negeri itu.

Banyak rumah sakit diserang atau rusak selama perang 5 tahun itu, sehingga kelompok oposisi menuding pasukan Suriah dan Rusia sengaja menyasar bangunan kesehatan.

Mazen Kewara dari Masyarakat Kesehatan Suriah-Amerika (SAMS), mengatakan badan amal itu mundur dari rencana membangun setidak-tidaknya lima rumah sakit lapangan di kawasan kekuasaan oposisi dalam dua tahun belakangan setelah mendapat tekanan dari penduduk setempat.

Beberapa masyarakat sebagai akibatnya tidak akan memiliki kesempatan ke layanan kesehatan, katanya kepada Thomson Reuters Foundation. "Masyarakat menolak menerima layanan kami di dalam kota dan desa mereka karena ancaman bahwa kawasan ini menjadi sasaran karena keberadaan sarana kami di sana," kata Kewara.

Meskipun seruan untuk menjauhi kawasan tersebut kebanyakan berasal dari pemimpin setempat, dalam satu kasus, SAMS ditolak memindahkan rumah sakit yang dibom kelompok milisi di Aleppo, kata Kewara, direktur SAMS untuk Turki dan Suriah utara.

"Mereka adalah kelompok militer, kami pekerja kesehatan, dan mereka yakin kami lebih menjadi sasaran dibanding mereka," katanya.

Hampir 1.000 orang tewas dalam serangan terhadap pusat-pusat kesehatan di seluruh dunia dalam dua tahun terakhir, hampir 40 persennya berada di Suriah, demikian laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei.

Kelompok bantuan kemanusiaan berulangkali menyerukan penghentian serangan terhadap sarana kesehatan.

Di Suriah, frekuensi dan akurasi serangan udara meningkat sejak Rusia memulai gerakannya untuk mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad pada September 2015, kata Kewara.

Juli 2016 menjadi bulan terparah untuk serangan terhadap pusat kesehatan sejak perang Suriah dimulai, dengan 43 serangan, lebih dari satu kali serangan per hari, kata SAMS.

Badan amal itu mengatakan mendukung lebih dari 1.700 pekerja kesehatan dan 169 sarana kesehatan di seluruh Suriah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
krisis suriah

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top