93% Korban Pemerkosaan Tidak Melapor?

Lentera Sintas Indonesia dan Magdalene.co bekerja sama dengan Change.org Indonesia mengungkapkan dari 93% korban pemerkosaan tidak melaporkan kejahatan yang terjadi pada diri mereka.
Atiqa Hanum | 22 Juli 2016 00:04 WIB
Ilustrasi korban pemerkosaan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Lentera Sintas Indonesia dan Magdalene.co bekerja sama dengan Change.org Indonesia mengungkapkan dari 93% korban pemerkosaan tidak melaporkan kejahatan yang terjadi pada diri mereka.

Direktur Eksekutif Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekoesoemo menerangkan survei yang berlangsung selama bulan Juni tersebut bertujuan memahami sejauh mana kekerasan seksual terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari perspektif korban/penyintas.

“Total responden yang berpartisipasi secara anonim mencapai 25.213 pengguna internet, terdiri dari 12.812 perempuan, 12.389 laki-laki dan 12 transgender,” bebernya dalam siaran pers, Kamis (21/7/2016).

Dari jumlah itu, tambahnya, sebanyak 37,87% mengaku pernah mengalami kekerasan seksual dalam berbagai bentuk. Jika dirinci berdasarkan gender, maka 5.995 perempuan (62,8%), 3.544 laki-laki (37,1%) dan 10 transgender (0,1%) pernah mengalami kekerasan seksual. Lalu dari total responden itu ditemukan sebanyak 1.636 orang atau 6% dari total responden mengaku pernah dipaksa, diintimidasi dan diancam melakukan aktivitas seksual atau pemerkosaan.

“Namun dari jumlah tersebut, sekitar 93% korban memutuskan untuk tidak melaporkan kasusnya. Sementara dari sekitar 6% itu yang memutuskan melapor, hanya 1% dan mengatakan kasusnya diselesaikan secara tuntas oleh pihak berwajib. Sisanya menghadapi penghentian kasus, pelaku bebas, berakhir ‘damai’ dan alasan lainnya,” tegasnya.

Menjelang Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli, lanjutnya, temuan lain yang mengejutkan dari survei ini, yakni 2 dari 3 responden yang mengaku mengalami pelecehan seksual berusia di bawah 18 tahun.

“Sebuah kelompok pendukung untuk para penyintas kekerasan seksual menegaskan hasil survei ini mengukuhkan tingginya urgensi penghapusan kekerasan seksual di Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, hal ini turut mendorong pihaknya melakukan kampanye #MulaiBicara. Rendahnya angka pelaporan menunjukkan budaya diam yang meliputi kekerasan seksual sungguh memekakkan telinga, menciptakan iklim impunitas dan membuat penyintas sulit mendapatkan keadilan.

Ketua Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Azriana R.M. mengatakan data survei menggambarkan betapa rendahnya kepercayaan korban pada penegak hukum.

“Hal ini bisa jadi berjalan paralel dengan minimnya prestasi penegak hukum dalam mengusut kasus kekerasan seksual. Sebuah pesan yang cukup keras bagi aparat penegak hukum untuk dapat mengusut kasus-kasus kekerasan seksual hingga tuntas,” tambah Azriana.

Direktur Komunikasi Change.org Indonesia Desmarita Murni menerangkan hampir 70% dari responden survei berusia di bawah 35 tahun, mengindikasikan tingkat kepedulian masyarakat, khususnya usia muda, yang relatif tinggi terkait isu kekerasan seksual. Sejumlah selebriti dan ‘influencer’ media sosial juga turut andil menyebarkan survei ini, diantaranya Dian Sastrowardoyo, Marissa Anita, Dira Sugandi, Nova Eliza, Ardina Rasti, Joko Anwar, Chico Jericho dan Melanie Subono.

“Ada kepedulian, dukungan sekaligus desakan kuat agar pemerintah serius menangani penghapusan kekerasan seksual. Jika pemerintah dan aparat berwenang tidak segera merespon suara masyarakat ini, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat menurun,” tutupnya.

Anda bisa mendapatkan info lebih lengkap mengenai hasil survei beserta infografik ini dengan membaca di www.change.org/mulaibicara .

Tag : survei, pemerkosaan, Pelecehan Seksual
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top