Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asa Si Jaidan dari Tidung

Santai seperti di pantai.Jargon tersebut sering dilontarkan untuk mengilustrasikan kehidupan yang penuh kedamaian dengan ritme lambat di sebuah pulau dengan pesisir yang indah. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang pulau?
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 26 April 2016  |  08:16 WIB
Asa Si Jaidan dari Tidung
Pulau Tidung - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA-Santai seperti di pantai.Jargon tersebut sering dilontarkan untuk mengilustrasikan kehidupan yang penuh kedamaian dengan ritme lambat di sebuah pulau dengan pesisir yang indah. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang pulau?

Setiap pekan, selalu ada ratusan warga Jakarta dan sekitarnya melancong ke Kepulauan Seribu. Mereka ingin sekadar melepas penat atau rehat dari rutinitas urban, dan membarternya sejenak dengan keheningan suasana pantai.

Mungkin Andapun termasuk salah satu orang yang pernah melarikan diri saat akhir pekan ke Kepulauan Seribu, dan menyerbu pulau-pulaujujuganfavorit para turis. Salah satu yang paling terkenal adalah Pulau Tidung.

Setiap pagi di Pulau Tidung, turis-turis berseliweran naik sepeda mini sewaan untuk berburu potret matahari terbit. Belpitmereka berdering bersahut-sahutan saat menyusuri gang-gang paving sempit di sepanjang perkampungan pulau terbesar di Kepulauan Seribu itu.

Salah satu spot beken untuk mencari golden sunrise di pulau itu adalah di sekitar Jembatan Cinta yang menghubungkan Tidung Besar dengan Tidung Kecil. Bahkan, ada yang bilang; Belum ke Tidung namanya kalau belum berfoto di Jembatan Cinta.

Di tengah keasyikan para pelancong lokal yang memburu gambar fajar menyingsing, Jaidan sudah sibuk mengawali hari dengan menyapu dan membersihkan areal sekitar Jembatan Cinta. Dia adalah salah satu dari hanya dua petugas kebersihan di tempat wisata itu.

Pria 58 tahun dengan gurat wajah yang sudah turun dan kulit legam terbakar matahari itu tetap fokus pada pekerjaannya sebagai tukang bersih-bersih. Meski sudah paruh baya, dari posturnya yang masih tegap, terlihat sepanjang hidupnya dia adalah seorang pekerja keras.

Jaidan tinggal di ujung paling barat Pulau Tidung, sementara tempat mangkal kerjanya berada di pucuk timur pulau itu. Subuh-subuh, pria yang sehari-hari tinggal berdua bersama cucunya itu mengawali hari dengan berbelanja kebutuhan pokok di dermaga utama.

Bagi warga Tidung sepertinya, belanja bahan pangan bukan sesuatu yang bisa dilakukan kapan saja dengan pergi ke pasar. Mereka harus memesan terlebih dulu kebutuhan mereka, untuk dititipkan kepada feri yang berangkat hanya dua kali dalam sehari.

Feri membawa kebutuhan warga Tidung dari dermaga Rosaban di Tangerang, Banten. Kloter pertama berangkat pukul 5 pagi dan tiba kembali ke dermaga Tidung sekitar pukul 11 siang. Sementara itu, kloter kedua berangkat pukul 8 pagi dan tiba kembali sekitar tengah hari.

Terkadang, jika sedang tidak beruntung, feri hanya berangkat sekali dalam sehari. Apabila sedang tidak ada pesanan muatan, feri gelombang pertama yang berangkat subuh tidak akan diberangkatkan ke Rosaban.

Karena harus diangkut dengan feri itulah, harga kebutuhan pokok di Tidung relatif lebih mahal dibandingkan di Jakarta dan seleksinya pun cukup terbatas. Warga seperti Jaidan masih harus membayar ongkos tambahan jika ingin pesanan belanjaannya diantarkan.

Belanjaan dari feri itu dibagi-bagi ke becak-becak. Kami harus membayar Rp30.000/becak. Masing-masing warga di sini punya langganan [becaknya] sendiri. Jadi, sebelumnnya kami menitipkan daftar belanjaan dulu, baru nanti mereka yang ambilkan, terang Jaidan.

Setelah belanja, Jaidan menjalankan becak motor alias betornya untuk sampai ke tempat mangkalnya di Jembatan Cinta. Paling lambat pukul 8 pagi, dia sudah harus mulai bersih-bersih. Setiap harinya dia bekerja hingga pukul 5 sore.

MENJADI NELAYAN

Terkadang, Jaidan berhenti sejenak untuk menatap laut. Setengah menerawang, dia bercerita bahwa mayoritas warga Tidung berprofesi sebagai nelayan. Setiap anak Tidung pasti mahir berenang dan menyelam bebas di laut lepas. Tak terkecuali dia, saat masih muda dulu.

Mayoritas nelayan di Tidung sini biasa melautnya ke Belitung untuk mencari ikan ekor kuning. Saya sendiri sudah berkeliling Indonesia. Saya pernah melaut ke mana saja saat masih jadi nelayan dulu, ujarnya sambil kembali menyapu dedaunan di atas pasir.

Dengan suara bergetar karena termakan senjanya usia, Jaidan bercerita bagaimana dia pernah menaklukkan laut dengan menyelam menggunakan kompresor. Dengan cara itulah dia bisa menangkap lebih banyak ikan di laut.

Sayangnya, praktik menyelam dengan kompresor untuk menangkap ikan saat ini sudah dilarang. Padahal, menurutnya, dengan menggunakan kompresor, nelayan Tidung bisa menyelam lebih dalam dan mendapat ikan lebih banyak.

Sekarang sudah dilarang, karena [jika terjadi insiden] dokter juga tidak bisa menyembuhkan, sebab korbannya pasti langsung kram dan menyerang ke otak dan paru-paru. Kalau menyelam pakai tengki, paling kami hanya bisa bertahan setengah jam di bawah air.

Tiba-tiba air muka Jaidan berubah sayu dan matanya melirik ke bawah ketika dia teringat bagaimana dirinya telah berkali-kali menyaksikan teman-temannya meninggal tak tertolong akibat teknik menyelam dengan kompresor.

Sering kejadian, nelayan di sini selesai menyelam, sedang mengobrol di atas kapal, tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Kalau sudah begitu, biasanya mereka tak tertolong karena kram. Sudah sering kejadian nelayan meninggal karena menyelam itu, kenangnya.

Risiko maut yang menghadang, bagaimanapun, tidak menciutkan nyali para nelayan Tidung untuk tetap pergi melaut. Bagaimana tidak, kompensasi yang mereka terima sebagai penangkap ikan lebih dari cukup untuk membuat asap dapur di rumah tetap mengepul.

Jaidan sendiri baru pensiun setahun lalu, karena usia mencegahnya untuk kembali bergumul dengan kedalaman laut. Terkadang, dia mengaku ingin kembali menjadi nelayan. Katanya, upah yang didapatkan jauh lebih besar ketimbang menjadi petugas kebersihan.

Kalau melaut beramai-ramai 15 orang, kami bisa dapat sekitar 3 ton tangkapan sekali kerja. Kalau sedang musim surut, penghasilan bersih yang kami terima paling sedikit Rp400.000/kg seminggu sekali. Namun, kalau sedang pasang, bisa Rp1 juta/kg seminggu dua kali.

Jika bukan sedang musim panen ikan di Belitung, Jaidan dan nelayan Tidung lainnya biasa memancing di sekitar perairan Kepulauan Seribu saja. Paling banyak, tangkapannya adalah ikan tengiri dan dijual di kampung halamannya dengan harga yang cukup menjanjikan.

Saat banting setir menjadi penjaga kebersihan, bayaran yang dikantongi Jaidan setiap bulannya hanya Rp1 juta. Untuk menambal tekor biaya hidup, dia dan cucunya membuka usaha dagang es kecil-kecilan di rumah sederhananya. Lumayan, cukuplah buat makan.

Gaji yang diterimanya dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk biaya kuliah putra bungsunya di Tangerang. Sementara itu, dua putranya yang lain meninggalkannya untuk merantau di Jakarta dan Tangerang demi bekerja sebagai pegawai swasta.

Saya orang kurang mampu, tapi saya ingin bisa memenuhi kemauan anak saya untuk kuliah. Di Pulau Tidung ini, orang-orang yang pintar harus merantau untuk jadi sukses. Kalau tidak, paling-paling merekacumabisa dagang kue di sini, ujarnya seraya tersenyum simpul.

Menjelang sore, Jaidan pulang ke rumah dengan betornya. Kendaraan itu adalah pemberian putranya, dan tidak pernah dia manfaatkan sebagai obyekan untuk penghasilan tambahan. Sebab, bersih-bersih pantai saja sudah cukup menguras energi untuk orang seusianya.

MAKIN BERKEMBANG

Dalam perjalanan, pria yang sejak lahir bernaung di Tidung itu memperhatikan tanah kelahirannya yangmenurutnyacukup berkembang meski tidak terlalu pesat. Setidaknya, sekarang semakin banyak bangunan dan perkampungan padat ketimbang dulu.

Perhatian yang dicurahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pulau tersebut dirasanya tidak pernah kurang. Hanya saja, kemurahan hati pemprov tak jarang disalahgunakan oleh otoritas setempat.

Seringkali kalau ada sumbangan, seperti kapal nelayan, disalurkannya ke orang-orang yang sudah mampu. Bantuan diberikan ke camat. Dari camat ke bawahan-bawahannya.Nah, dari sana lalu bantuan itu malah diberikan ke orang-orang yang sudah cukup berada, jelasnya.

Jaidan hanya merefleksikan sedikit dari orang-orang pulau yang hidupnya menggantungkan diri dari laut Kepulauan Seribu. Untuk seorang pensiunan nelayan sepertinya, tak banyak yang diharapkan selain keadilan yang merata di balik pembangunan kampung halamannya.

Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sendiri belum lama ini mengeluhkan banyaknya pembangunan yang tidak tepat sasaran di Kepulauan Seribu. Selain habis energi, tentunya hal tersebut menghambur-hamburkan anggaran.

Dia mendapati tidak sedikit bantuan dan pembangunan di Kepulauan Seribu yang mangkrak dan gagal menyasar warga yang membutuhkan. Sedih dengan kondisi tersebut, dia ingin agar ke depannya pembangunan di Kepulauan Seribu dikalkulasi lebih cermat.

Upaya-upaya pun terus dilakukan untuk mewujudkan mimpi orang kecil seperti Jaidan, yang ingin menyaksikan tanah kelahiran dan laut yang menghidupinya dikelola dengan adil dan memberikan kemakmuran yang merata bagi warganya.

Gayung bersambut, Pemprov DKI baru-baru ini berancang-ancang menjadikan Kepulauan Seribu sebagai desa nelayan sekelas Volendam di Belanda. Namun, untuk itu, pemerintah ingin memastikan agar rencana tersebut tidak disusun setengah-setengah.

Pembangunan harus melihat komunitas lokal, seperti membangun kampung nelayan sekelas Volendam yang bersih dan rapi, serta bisa dijadikan tempat wisata. Jangan takut bikan program bagus asal perencanaannya jelas, kata mantan Walikota Blitar itu.

Mungkin, mimpi menjadikan Kepulauan Seribu seperti Volendam masih muluk dan terlalu jauh dari gapaian. Namun, setidaknya janji pemerintah itu memberikan setitik harapan bagi Jaidan Si Petugas Kebersihan agar kehidupan cucunya kelak lebih baik.

Sehingga, dia tidak harus lagi ditinggal orang-orang yang dikasihinya merantau karena sudah ada sumber penghidupan yang layak di tanah kelahirannya. Dengan begitu, orang-orang pintar asli Tidung tidak perlu lagi berakhir sebagai penjual kue di kampung halamannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pulau tidung humaniora
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top