Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

India-Amerika Buat Kesepakatan Mengenai Logistik Militer

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter mengatakan bahwa negara tersebut sepakat untuk berbagi logistik militer dengan India.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 12 April 2016  |  16:43 WIB
Menteri  Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter. - REUTERS
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter. - REUTERS

Bisnis.com, NEW DELHI — Menteri  Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter mengatakan bahwa negara tersebut sepakat untuk berbagi logistik militer dengan India.

Negeri Paman Sam itu mendesak India untuk menandatangani perjanjian dukungan logistik yang memungkinkan militer dari kedua negara untuk saling menggunakan pangkalan darat, udara dan laut untuk keperluan suplai ulang, perbaikan, dan untuk beristirahat.

Setelah kebimbangan bertahun-tahun, kedua belah pihak menyetujui kesepakatan tersebut meskipun belum siap untuk menandatanganinya.

 “Pada prinsipnya, kami setuju bahwa semua masalah telah diselesaikan. Sekarang, kami perlu menyelesaikan draf nya,” kata Carter seperti dikutip dari Reuters, Selasa (12/4/2016).

Sebelumnya, India khawatir kesepakatan logistik militer ini akan menarik negara tersebut ke dalam aliansi militer dengan Amerika dan melemahkan autonomi tradisional negara tersebut.

Namun, Perdana Menteri Narendra Modi dihadapkan dengan sikap China yang semakin memperluas pengaruhya di Laut China Selatan hingga ke Samudra Hindia. Hal ini  memicu keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Amerika Serikat. China juga merupakan sekutu dekat saingan India, Pakistan.

New Delhi tertarik untuk bisa mengakses teknologi Amerika Serikat seiring dengan rencana Modi untuk membangun basis industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi impor senjara berbiaya tingi di India.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india amerika serikat militer sengketa laut china selatan

Sumber : Reuters

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top