Setengah Penduduk Afrika Tengah Kelaparan Setiap Hari

Setengah dari penduduk Republik Afrika Tengah kelaparan setiap hari akibat kelangkaan bahan pangan, kata PBB pada Selasa (2/3/2016).
Martin Sihombing | 02 Maret 2016 16:00 WIB
Presiden Afrika Tengah Faustin-Archange Touadera - Reuters/Siegfried Modola

Bisnis.com, LONDON -  Setengah dari penduduk Republik Afrika Tengah kelaparan setiap hari akibat kelangkaan bahan pangan, kata PBB pada Selasa (2/3/2016).

Jumlah penderita kelaparan itu meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Peperangan di Republik Afrika Tengah tiga tahun belakangan dan pengungsian besar-besaran membuat negara tersebut gagal panen sehingga harga pangan melonjak.

"Itu keadaan parah lebih buruk daripada tahun lau," kata direktur Program Pangan Dunia (WFP) untuk negara tersebut, Bienvenu Djossa, dalam wawancara telepon dari Bangui.

"Kami tidak bisa hanya duduk berdoa sambil menunggu malapetaka ini terjadi. Ini sebabnya kami mengatakan bahwa kami butuh bantuan tambahan. Seruan kami adalah ini, jangan lupakan Afrika Tengah," kata dia.

Djossa mengatakan bahwa kelangkaan pangan sedemikian parah sehingga anak-anak yang menerima makanan dari WFP di sekolah menyisihkan sebagian jatah mereka untuk dibawa pulang dengan menggunakan kantung plastik.

Hampir 2,5 juta warga kini terancam kelaparan. Mereka selamat dengan memakan makanan murah rendah nutrisi, kata WFP. Para keluarga harus menjual harta, mengeluarkan anak dari sekolah, dan bahkan mengemis.

Negara tersebut mengalami krisis besar pada awal 2013 setelah gerilyawan Seleka menggulingkan Francois Bozize dari kursi kepresidenan. Kudeta itu kemudian berubah menjadi perang saudara yang sarat nuansa SARA.

WFP dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dalam laporannya menyatakan bahwa total produksi panen pada 2015 kurang dari setengah rata-rata sebelum perang saudara 2013.

Pembunuhan dan penjarahan menyebabkan populasi ternak sapi berkurang hampir 50 persen dan kambing sebesar hampir 60 persen. Kerusakan pada infrastruktur dan kondisi yang tidak aman juga memukul sektor perikanan.

Peningkatan kekerasan pada September tahun lalu juga turut menyebabkan melonjaknya harga makanan, kata dua orgnasisasi tersebut. Harga daging kini dua kali lipat lebih mahal dibanding sebelum masa perang. Demikian pula bahan-bahan lain seperti tepung kacang tanah dan ikan yang kaya protein.

Dua badan PBB itu mengatakan bahwa pemulihan sektor agrikultur merupakan kunci dari perdamaian permanen di negara tersebut mengingat dua per tiga penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

"Musim tanam akan dimulai kurang dari dua bulan lagi, pemulihan sektor pertanian adalah hal krusial dalam upaya revitalisasi ekonomi dan stabilitas di negara ini," kata wakil FAO untuk Republik Afrika Tengah, Jean-Alexandra Scaglia.

FAO membutuhkan sekitar 86 juta dolar AS untuk membantu petani mendapatkan benih, peralatan, dan vaksin ternak.

Sementara itu, WFP mengaku baru mendapatkan setengah dari 89 juta dolar yang mereka butuhkan untuk membantu 1,4 juta warga di negara tersebut dan pengungsi yang berada di negara-negara sekitar.

Sumber : ANTARA/Reuters

Tag : fao, krisis pangan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top