Pelemahan Mata Uang Negera Berkembang Berlanjut Tahun Ini

Analis memperkirakan pelemahan lebih lanjut mata uang negara berkembanb akan terjadi hingga tahun ini
Sri Mas Sari | 02 Januari 2016 18:47 WIB
Mata uang Asia - ilustrasi

Bisnis.com, KUALA LUMPUR -- Analis memperkirakan pelemahan lebih lanjut mata  uang negara berkembang setelah jatuh pada 2015 ke level paling dalam setelah 1997, sejalan dengan proyeksi kelanjutan perlambatan ekonomi China dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat tahun depan. 

Sentimen perlambatan juga melukai pasar saham dan obligasi, dengan indeks ekuitas di negara-negara berkembang membukukan penurunan tahunan terbesar sejak 2011. Permintaan investor untuk menahan surat utang negara berkembang meluas untuk pertama kalinya dalam tiga tahun setelah the Federal Reserve mengetatkan kebijakan moneter dan mengisyaratkan tindakan lanjutan. 

Ahli strategi UBS AG dan Citigroup Inc. mengatakan gejolak lebih lanjut harus diantisipasi karena pasar negara berkembang belum cukup jatuh yang merefleksikan kelesuan pertumbuhan global. Kemerosotan komoditas yang menekan harga minyak Brent juga mengurangi kepercayaan karena para ekonom memproyeksikan China, ekonomi terbesar kedua di dunia dan pembeli utama komoditas, akan melambat lebih lagi pada 2016. 

"Pada dasarnya, tidak ada mata uang negara berkembang yang akan mampu melawan penguatan dolar. Fokus kepada the Fed telah beralih dari pengetatan ke kenaikan suku bunga selanjutnya. Kita mungkin tetap tinggal dalam skenario harga komoditas rendah," kata ahli strategi nilai tukar Bank of Singapore Ltd. Sim Moh Siong, seperti dikutip Bloomberg

Mata uang 20 negara berkembang terdepresiasi 15% pada 2015, pergeseran paling curam setelah krisis keuangan Asia 1997 yang anjlok 23%. Enam dari 24 mata uang negara berkembang yang ditelusuri oleh Bloomberg diperkirakan melemah lagi dalam 12 bulan ke depan, dengan peso Argentina, real Brasil, dan rupiah Indonesia jatuh paling dalam. 

Indeks komoditas Bloomberg merekam 22 bahan mentah terperosok 25% tahun ini bersamaan dengan minyak Brent yang anjlok 35%. Produk domestik bruto China diprediksi tumbuh 6,5%, lebih lambat dari estimasi 6,9% pada 2015, laju terlemah dalam 25 tahun, menurut survei ekonom Bloomberg

"Volatilitas tinggi akan berlanjut. Risiko utama ada pada ekonomi China. Mereka penggerak terbesar perdagangan dunia dan negara berkembang. Ketidakmampuan menstabilisasi akan melemahkan PDB negara berkembang lagi," kata manager ekuitas NN Investment Partners in the Hague kepada Bloomberg

Di Asia, mata uang melemah tahun ini terutama karena capital outflows yang mengantisipasi kenaikan suku bunga AS dan dampak perlambatan ekonomi China. Ringgit Malaysia memimpin pelemahan dengan depresiasi 19% karena penurunan harga Brent juga mengurangi penerimaan negara satu-satunya net exporter minyak di kawasan itu. Rupiah Indonesia merosot 10%, baht Thailand terdepresiasi hampir 9% dan won Korea Selatan kehilangan 6,3%. Rupiah, won, dan dolar Taiwan diprediksi memimpin depresiasi pada 2016. 

Peso Argentina jatuh 35% setelah negara itu meninggalkan patokan mata uang terhadap dolar. Real Brasil terperosok 33% setelah dilanda skandal korupsi yang melibatkan BUMN perminyakan Petroleo Brasileiro SA, penurunan credit rating, dan krisis politik. Lira Turki jatuh untuk tahun ketiga. Begitu pula dengan ruble Rusia yang memangkas hampir 60% nilainya sejak akhir 2012 akibat penurunan minyak dan sanksi  selama konflik dengan Ukraina. 

"Perlambatan China, dikombinasikan dengan kenaikan suku bunga the Fed dan pelemahan harga komoditas, menciptakan tahun yang cukup buruk bagi investor di negara berkembang yang tidak mencari ceruk pasar tertentu. Investor semestinya tidak memperlakukan sama pasar negara berkembang," kata Attila Vajda, Direktur Pelaksana Project Asia Research & Consulting Pte yang berbasis di Singapura. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar, emerging markets, suku bunga the fed, perlambatan china

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top