Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KAA 2015: Maroko, Jauh di Mata Dekat di Hati

Setiap 2 Maret, rakyat Maroko yang merupakan satu negara Islam di bagian Afrika Utara ini merayakan hari kemerdekaannya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 April 2015  |  02:10 WIB
Kampus Universitas Muhammad V, Maroko.  - faqih666.blogspot.com
Kampus Universitas Muhammad V, Maroko. - faqih666.blogspot.com

Kabar24.com, JAKARTA - Setiap 2 Maret, rakyat Maroko yang merupakan satu negara Islam di bagian Afrika Utara ini merayakan hari kemerdekaannya.

Tanggal itu menjadi istimewa bagi mereka karena pada hari itu pada 1956, Prancis mengakui kemerdekaan Maroko, dan Spanyol resmi meninggalkan wilayah negara yang menganut sistem monarki konstitusional itu.

Sejak 1912 hingga 1956, Maroko dibagi menjadi zona Prancis dan Spanyol Tak lama kemudian Raja Maroko Sultan Mohammed V kembali ke negara yang memiliki nama resmi al Mamlaka al Maghribiya, atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi the Western Kingdom itu dari pengasingannya di Madagaskar.

Tak banyak yang tahu bahwa Indonesia adalah negara pertama yang memberikan pengakuan atas kemerdekaan negara yang beribukota Rabat itu, kota dengan pemandangan indah yang terletak di mulut sungai Bou Regreg.

Semangat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang diikuti 29 negara telah mendorong negara yang memiliki dua pegunungan terkenal, yaitu Pegunungan Atlas dan Pegunungan Rif, itu untuk mencapai kemerdekaannya.

Hubungan Indonesia dan Maroko semakin erat setelah Presiden Soekarno mengunjungi negara yang dijuluki Negara Seribu Benteng tersebut pada 2 Mei 1960.

Kunjungan itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat Maroko karena Presiden Soekarno dianggap sebagai tokoh yang berperan dalam kemerdekaan bangsa di Asia Afrika. Nama Soekarno pun diabadikan sebagai nama salah satu jalan protokol di Maroko.

Selain nama Soekarno, Bandung dan Jakarta juga dijadikan nama jalan di negara yang terkenal dengan masakan berbahan dasar gandum couscous atau di Indonesia dikenal dengan sebutan bulgur itu.

Indonesia pun melakukan hal yang sama dengan menjadikan nama kota terbesar di Maroko yaitu Casablanca menjadi nama jalan di Jakarta.

Presiden Soekarno juga meminta kepada Raja Mohammad V agar rakyat Indonesia dapat masuk ke Maroko seperti rumahnya sendiri.

Pada 1965 Indonesia mengirimkan Dubes RI pertama untuk Kerajaan Maroko, yaitu GPH Djatikoesoemo yang menjabat sejak 1 Juli 1965 hingga 25 Desember 1966.

Perdagangan Upaya kerja sama antarkedua negara terus dilakukan sampai saat ini, mulai pendidikan, ekonomi, politik, pariwisata, sosial, dan budaya.

Hubungan perdagangan Indonesia-Maroko menunjukkan tren peningkatan rata-rata sebesar 34,6% dalam 5 tahun terakhir. Pada periode Januari-Agustus 2014 nilai perdagangan RI-Maroko tercatat sebesar US$147,81 juta, meningkat 14,23% dibandingkan periode yang sama 2013.

Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar US$40 juta (turun 10% dari periode yang sama 2013). Sementara itu, nilai perdagangan RI-Maroko sepanjang tahun 2013 tercatat US$186,8 juta (Indonesia defisit US$49,83 juta).

Produk ekspor RI ke Maroko yang mencatat nilai terbesar adalah kopi, diikuti produk elektrik dan elektronik, minyak mentah, dan tekstil. Adapun produk impor RI dari Maroko didominasi produk fosfat dan asam fosfat, produk pertanian, dan peralatan medis.

Upaya peningkatan kerja sama ekonomi diperkuat dengan pembukaan Trading House Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Barat di Casablanca pada tanggal 28 April 2014 dengan pembentukan Morocco-Indonesia Business Council pada bulan Oktober 2014 serta pengangkatan Konsul Kehormatan Indonesia di Casablanca, Mr Hassane Berkani, 16 Oktober 2014.

Bahasa Indonesia

Dipelajari pada 2012, Dubes RI untuk Maroko Tosari Widjaja dan Rektor Universitas Mohamed V Prof Dr Wail Benjelloun meresmikan pengajaran Bahasa Indonesia di Gedung Amphitheatre Fakultas Science Universitas Mohamed V Rabat-Maroko di hadapan sekitar 500 orang undangan yang terdiri dari kalangan diplomatik, pejabat pemerintah Maroko, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat kedua negara yang ada di Maroko.

Acara pembukaan pengajaran Bahasa Indonesia di universitas di Maroko itu juga dihadiri delegasi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Kerjasama Dr Soeprijanto, yang mendapat liputan media lokal Maroko .

Dubes mengajak masyarakat Maroko dan mahasiswa Maroko untuk mempelajari dan mendalami lebih lanjut tentang Bahasa Indonesia. Dengan belajar Bahasa Indonesia akan banyak mengenal dan mengetahui tentang Indonesia, ujar Dubes.

Sementara itu, Rektor Universitas Mohamed V dalam sambutannya antara lain menyampaikan dukungan dan sambutan baik untuk pembukaan pengajaran Bahasa Indonesia di Universitas Mohamed V.

Di sampaikan pula bahwa dengan pembukaan pengajaran Bahasa Indonesia tersebut dapat meningkatkan hubungan Maroko-Indonesia di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan, serta mendorong masyarakat Maroko untuk mengenal lebih lanjut mengenai budaya Indonesia.

Bahasa Indonesia resmi diajarkan sebagai mata kuliah di Universitas Mohamed V Rabat Maroko, yaitu dengan menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pilihan dengan 4 SKS, di samping bahasa lainnya seperti Bahasa China, Jepang, Korea, Urdhu, dan Turki.

Perkuliahan dimulai 15 Oktober 2012 dengan dosen pengajar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Universitas Mohamed V dikenal sebagai universitas terkemuka di Maroko, namanya diambil dari nama raja yang memerintah Maroko dari 1927 sampai 1961 dan diresmikan pada 1957 oleh Raja Mohamed V .

Saat ini terdapat sekitar 24.000 orang mahasiswa yang menempuh pendidikan di universitas yang di Maroko dikenal dengan sebutan King University, hal ini berkaitan dengan Raja Maroko Hassan II dan Mohamed VI yang pernah menempuh pendidikan di universitas tersebut.

Konflik Sahara Barat

Kerja sama terkini Indonesia-Maroko adalah saat Duta Besar Maroko Mohamed Majdi menggelar pertemuan dengan Ketua MPR RI Zulkifili Hasan pada 29 Januari 2015. Dalam pertemuan tersebut, Maroko meminta bantuan Indonesia dalam menyelesaikan masalah Sahara Barat.

Mohamed Majdi mengungkapkan negaranya memiliki sedikit persoalan menyangkut isu Sahara Barat karena berkaitan dengan adanya kegiatan separatisme dan dianggap telah mengganggu keamanan teritorial mereka.

"Isu Sahara Barat ini sudah masuk di Dewan Keamanan PBB. Bahkan, DK PBB meminta pihak-pihak yang terkait dengan isu Sahara Barat untuk menyampaikan proposal jalan keluar yang adil dan damai untuk persoalan itu. Kami juga menunggu pandangan dari negara-negara lain yang dapat memberikan jalan keluar melalui pemberian otonomi," kata Majdi.

Berkaitan dengan hal itu, Ketua MPR Zulkifli Hasan mendukung Maroko sepenuhnya untuk penyelesaian isu Sahara Barat. Zulkifli menilai pemberian otonomi menjadi ide yang bagus dan jalan yang terbaik. "Indonesia dukung Maroko dalam isu Sahara Barat," kata Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Dalam pertemuan tersebut, Maroko juga berharap hubungan baik dengan Indonesia bisa ditingkatkan ke ekonomi dan perdagangan. []


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maroko KAA 2015

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top