Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tragedi Charlie Hebdo: Lebih dari Sejuta Orang Gelar Pawai Diam

Para pemimpin dunia termasuk dari negara Islam dan Yahudi menyatu bersama lebih dari sejuta warga Prancis dalam satu pawai tanpa suara untuk memberi penghormatan kepada para korban serangan milisi dalam tragedi Charlie Hebdo.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 12 Januari 2015  |  07:57 WIB
Tragedi Charlie Hebdo: Lebih dari Sejuta Orang Gelar Pawai Diam
Ilustrasi -

Bisnis.com, JAKARTA— Para pemimpin dunia termasuk dari negara Islam dan Yahudi menyatu bersama lebih dari sejuta warga Prancis dalam satu pawai tanpa suara untuk memberi penghormatan kepada para korban serangan milisi dalam tragedi Charlie Hebdo.

Para komentator menyatakan terakhir kali pawai besar yang digelar di kota Paris adalah saat pembebasan Paris dari kekuasaan Nazi Jerman pada 1944. Peserta pawai yang memenuhi jalan-jalan utama Paris itu diperkirakan antara 1,2 juta hingga 1,6 juta orang dari berbagai etnis dan suku bangsa.

Presiden Francois Hollande dan para pemimpin dari Jerman, Italia, Turki, Inggris serta dari Israel dan Palestina terlihat hadir dalam pawai tersebut. Pawai itu sendiri dimulai dari Place de la Republique dengan membawa sejumlah atribut termasuk bendera.

Sebanyak 17 orang termasuk wartawan dan polisi tewas dalam tiga hari serangan berdarah yang dimulai dari pembantaian di kantor majalah Charlie Hebdo. Majalah mingguan itu dikenal sering membuat ulah dengan menampilkan karikatur bernada menghina Islam dan agama-agama lainnya.

"Paris sekarang menjadi Ibu Kota dunia. Seluruh negara kami akan bangkit dan menunjukkan sisi terbaiknya,” ujar Hollande sebagaimana dikutiup Reuters, Senin (12/1/2015).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

militan paris Charlie Hebdo

Sumber : Reuters

Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top