Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

ISIS SANDERA WARGA AUSTRALIA: Penyandera Belum Ajukan Tuntutan

Polisi Australia mengatakan masih belum ada kontak langsung dengan pelaku penyandera pengunjung sebuah kafe di Martin Place, Sydney, Australia, Senin (15/12/2014).
News Editor
News Editor - Bisnis.com 15 Desember 2014  |  11:25 WIB
Seorang anggota polisi berlari melintasi Martin Place dekat Lindt cafe, tempat sejumlah orang menjadi sandera, di pusat kota Sydney 15 Desember 2014. - Reuters/David Gray
Seorang anggota polisi berlari melintasi Martin Place dekat Lindt cafe, tempat sejumlah orang menjadi sandera, di pusat kota Sydney 15 Desember 2014. - Reuters/David Gray

Bisnis.com, SYDNEY -- Penyandera yang diduga berasal dari kelompok ISIS di Sydney, Australia, dikabarkan belum menyampaikan pesan apa pun kepada polisi.

Polisi Australia mengatakan masih belum ada kontak langsung dengan pelaku penyandera pengunjung sebuah kafe di Martin Place, Sydney, Australia, Senin (15/12/2014).

"Kami sekarang berada dalam situasi yang bisa disamakan dengan peristiwa terorisme," kata Komisaris Polisi New South Wales Andrew Scipione kepada wartawan di Sydney, seperti diwartakan oleh Reuters.

Scipione mengatakan pihak kepolisian New South Wales telah mengepung kafe yang terletak di kawasan pusat bisnis Sydney tersebut dan mengevakuasi sejumlah bangunan di sekitarnya, namun kegiatan bisnis masih dapat berlangsung.

Aksi penyanderaan oleh seorang pria bersenjata di Cafe Lindt di kawasan Martin Place, Sydney, Australia berlangsung sejak pukul 09.00 waktu setempat.

Menurut seorang jurubicara Cafe Lindt Australia, Styeve Loane, setidaknya ada sekitar 10 staf yang bekerja di kafe tersebut dan mungkin sebanyak 30 pelanggan yang diduga ikut tersandera di sana.

Dalam aksinya, penyandera tersebut memaksa para sandera untuk menempelkan diri ke setiap jendela yang ada di bangunan kafe tersebut sebagai tameng manusia.

Di salah satu jendela juga terlihat seorang sandera membentangkan bendera hitam dengan tulisan Arab yang memicu spekulasi bahwa penyandera berkaitan dengan kelompok Negara Islam Iran Suriah (ISIS), namun dugaan ini masih belum terbukti.

Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan motif penyanderaan tersebut masih belum jelas apakah bermotif politik atau tidak.

"Kami belum tahu apakah ini bermotif politik, meskipun ada beberapa indikasi bahwa ada kemungkinan ke sana," kata Abbott kepada wartawan di Canberra.

Menyikapi kejadian tersebut, Amerika Serikat telah mengevakuasi staf Konsulatnya yang terletak tidak jauh dari lokasi sebagai tindakan pencegahan.

Juru bicara Konsulat AS juga menyatakan pihaknya telah mengeluarkan peringatan darurat untuk warganya di Sydney, yang isinya mendesak mereka untuk "Menjalankan tingkat kewaspadaan yang tinggi dan mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan keamanan pribadi mereka".

Juru bicara itu mengatakan beberapa personil penting akan tetap berada di konsulat tapi semua orang lain sudah dipulangkan.

Sejauh ini belum ada informasi ada WNI yang menjadi korban penyanderaan, demikian menurut Konsul Penerangan Sosial dan Budaya, Pensosbud KJRI Sydney, Nicolas Manoppo.

Martin Place adalah kawasan pusat bisnis dan perbankan paling sibuk di Sydney Sekitar 30-40 meter dari cafe itu terdapat studio jaringan televisi Channel 7.

Terdapat pula kantor-kantor pemerintah, dan kini polisi telah menutup jalur lalu lintas di sekitar lokasi penyanderaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sydney ISIS

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top