Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pacu Promosi Indonesia, Diplomat Perlu Blusukan

Para diplomat Indonesia dinilai perlu ikut blusukan di wilayah kerjanya dengan kreasi dan inovasi masing-masing agar Indonesia makin dikenal di mancanegara.
Rustam Agus
Rustam Agus - Bisnis.com 11 November 2014  |  13:59 WIB
Pacu Promosi Indonesia, Diplomat Perlu Blusukan
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA-Para diplomat Indonesia dinilai perlu ikut blusukan di wilayah kerjanya dengan kreasi dan inovasi masing-masing agar Indonesia makin dikenal di mancanegara.

"Khususnya dalam upaya mempromosikan produk dan jasa Indonesia, menarik investor, dan mendatangkan wisatawan ke Indonesia," kata Mantan Duta Besar RI untuk Vietnam Aiyub Mohsin, Selasa (11/11/2014).

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dalam paparannya tentang Rencana Kebijakan Luar Negeri yang akan ditempuh dalam 5 tahun ke depan a.l. mewajibkan semua kepala perwakilan dan diplomat Indonesia di luar negeri meniru aksi blusukan Presiden Jokowi di wilayah kerjanya masing-masing.

Aiyub menjelaskan, pada hakekatnya pelaksanaan tugas semacam blusukan telah dilakukan para diplomat Indonesia yang bertugas sebagai Kepala Bidang Ekonomi di Perwakilan Indonesia di luar negeri maupun oleh para Kepala Perwakilan (para Duta Besar) di negara-negara akreditasi tertentu serta para Konsul Jenderal di wilayah kerja masing-masing.

Namun, lanjutnya, ke depan aksi blusukan para diplomat Indonesia perlu dilakukan secara lebih kreatif dan inovatif, sehingga hasilnya diharapkan dapat melebihi cara-cara diplomasi yang dilakukan secara konvensional.

Dia mencontohkan pengalamannya saat bertugas sebagai Kepala Sub Bidang yang kemudian menjadi Kepala Bidang Ekonomi di KBRI Singapura pada 1985-1989. Saat itu ia banyak melakukan blusukan berupa pertemuan-pertemuan dengan berbagai kalangan bisnis setempat termasuk melaksanakan seminar dan pameran bisnis.

"Pertemuan-pertemuan tersebut selalu dilanjutkan dengan 'One-on-One Bussiness Meeting' antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Singapura, bahkan dengan menemui pimpinan dan anggota organiasi bisnis dan industri setempat," katanya.

Hasilnya, menurut dia, sangat menggembirakan. Pada 3 bulan pertama 1989 total perdagangan Indonesia-Singapura hampir mencapai US$9 miliar. Indonesia selalu mengalami surplus dan Singapura menjadi negara tujuan ekspor Indonesia terbesar setelah Jepang dan Amerika Serikat.

Kegiatan yang sama dilakukannya saat dia menjabat Kabid Ekonomi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York dari Oktober 1991 sampai Agustus 1996.

KJRI New York mempunyai wilayah kerja 15 negara bagian di pantai Timur Amerika Serikat, mulai dari negara bagian Maine, berbatasan dengan Canada sampai dengan South Carolina.

Di wilayah kerja itu, selain membina hubungan dan pertemuan rutin dengan Kadin dan World Trade Centre (WTC) setempat, pihaknya juga menghadiri undangan sekolah-sekolah bisnis di negara bagian itu dengan menjadi pembicara pada seminar dan dialog bisnis, bahkan juga menjadi pembicara pada beberapa stasiun televisi lokal.

"Alhamdulillah hasilnya perdagangan Indonesia dengan wilayah kerja KJRI New York selalu suplus di pihak Indonesia."

Bahkan, lanjutnya, menurut lembaga riset dan konsultan Ernst & Young, hampir setengah investasi AS di Indonesia berasal dari perusahaan yang berdomisili di New York, New Jersey dan Pennsylvania yang merupakan wilayah Kerja KJRI New York.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kbri blusukan diplomat

Sumber : Antara

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top