Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PROYEKSI PDB 2015 OECD: China Melesat, AS Menguat, India Tumbuh Moderat

Gerak pertumbuhan perekonomian dunia diperkirakan masih mengalami ketimpangan karena negara-negara yang menjadi pusat perekonomian gagal menciptakan pertumbuhan yang kuat, seimbang dan inklusif serta tidak mampu melaksanakan reformasi struktural yang ketat.n
PERDANA MENTERI CHINA Li Keqiang. /REUTERS
PERDANA MENTERI CHINA Li Keqiang. /REUTERS

Bisnis.com , JAKARTA - Gerak pertumbuhan perekonomian dunia diperkirakan masih mengalami ketimpangan karena negara-negara yang menjadi pusat perekonomian gagal menciptakan pertumbuhan yang kuat, seimbang dan inklusif serta tidak mampu melaksanakan reformasi struktural yang ketat.

Dalam Interim Economic Assessment (ICA) tahunannya, Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menjabarkan ketimbangan akan tampak nyata dari penyerapan tenaga kerja yang hanya berada di AS, Inggris Raya dan Kanada.

"Ekonomi global tumbuh tidak merata dan berada pada level moderat. Pertumbuhan perdagangan masih lambat dan situasi pasar tenaga kerja mengalami stagnansi," kata Pejabat Kepala Ekonom dan Deputi Sekjen OECD Rintaro Tamaki melalui siaran pers, Senin (15/9/2014).

Sementara, OECD menekankan masih ada begitu banyak tenaga kerja di seluruh dunia, baik dari negara maju dan berkembang, yang gagal mendapatkan pekerjaan.

Lembaga ini memprediksi pertumbuhan PDB AS sebesar 2,1% tahun ini dan naik menjadi 3,1% pada 2015, Inggris Raya tumbuh 3,1% pada 2014 dan melambat sampai 2,8% tahun depan, sementara Kanada naik 2,7% pada 2015, lebih tinggi dibanding tahun ini yang hanya 2,3%.

Dari Benua Biru, pertumbuhan Jerman yang konsisten di angka 1,5% selama 2 tahun ini akan memimpin zona Euro keluar dari area defisit dan bertumbuh tipis di kisaran 0,8% tahun ini dan 1,1% pada 2015, karena Prancis hanya mampu tumbuh 0,4% tahun ini dan 1% pada 2015.

Demi menghindarkan Eropa kembali masuk ke jurang defisit, OECD menyarankan kepada ECB agar bersiap melakukan aksi moneter lanjutan seperti quantitative easing. Negara-negara Eropa juga harus fleksibel dalam menyikapi aturan fiskal kawasan mereka.

"Zona Euro butuh stimulus moneter yang lebih kuat, sementara AS dan Inggris Raya harus menghentikan secara perlahan kebijakan monetary easing mereka," ungkapnya.

Khusus untuk Jepang, OECD mengapresiasi kebijakan stimulus ekonomi yang terus dilakukan otoritas Sakura, yang membuat pertumbuhan PDB Jepang pada tahun ini mencapai 0,9% dan kemudian 1,1% pada 2015.

Namun, papar Tamaki, Jepang masih membutuhkan quantitative easing untuk memecahkan deflasi dengan disertai upaya konsolidasi fiskal yang lebih berat dibanding negara lain.

Di level lain, OECD memproyeksi pertumbuhan ekonomi kelompok emerging countries akan lebih pesat dibanding negara maju, dengan varian yang berbeda di tiap negara.

China diperkirakan telah memenuhi syarat untuk masuk ke dalam fase pertumbuhan berkelanjutan, yaitu di kisaran 7,4% pada 2014 dan 7,3% tahun depan, sedangkan India dan Brasil tumbuh moderat pasca bangkit dari krisis.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arys Aditya
Editor : Fatkhul Maskur

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper