Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Batasi Dana Pemda yang Bisa Didepositokan

Pemerintah akan mengeluarkan aturan mengenai jumlah maksimal dana pemda yang ditempatkan dalam deposito.
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi - Bisnis.com 23 April 2014  |  08:43 WIB
Ilustrasi uang rupiah. Pemerintah batasi dana pemda dalam bentuk deposito - JIBI
Ilustrasi uang rupiah. Pemerintah batasi dana pemda dalam bentuk deposito - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah akan mengeluarkan aturan mengenai jumlah maksimal dana pemda yang ditempatkan dalam bentuk deposito.

“Aturan ini bertujuan agar dana transfer daerah tidak mengendap di perbankan, melainkan mengalir untuk pembangunan daerah,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri sebagaimana dikutip situs Kemenkeu Rabu (23/4/2014).

Menkeu berharap jangan sampai dana dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah ditempatkan di Bank Pembangunan Daerah (BPD), lalu disimpan kembali ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI), sehingga dana kembali lagi ke pusat, dan mengakibatkan infrastruktur tidak terbangun di daerah.

Menurutnya, pada tahun lalu, dana pemda yang idle dan mengendap di perbankan mencapai Rp109 triliun.

Dana tersebut kemudian menjadi Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), untuk digunakan sebagai dana awal 2014.

Terkait rencana pembatasan deposito dana Pemda itu, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan persetujuannya.

"Saya setuju," tegas Gamawan  seraya menyebutkan Silpa pemda dari Desember hingga Maret memang biasanya tidak terpakai. Kalau tidak terpakai, anggaran tersebut boleh masuk deposito.

“Kalau masuk di giro bunganya hanya 3%, sedangkan di deposito mencapai 6% jadi pemda memperoleh keuntungan 3%,” paparnya.

Namun, diakui Gamawan, penyimpanan uang di deposito ini dilakukan dengan catatan tidak dalam jangka waktu lama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dana pemda
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top