Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

ILO: Kesenjangan Angka Bekerja Berisiko Melebar

Kendati krisis keuangan 2008 telah berakhir yang dibuktikan oleh pemulihan ekonomi di negara maju, angka kesenjangan angka ketenagakerjaan dunia berpotensi melebar menjadi 75 juta orang pada 2018.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 13 April 2014  |  21:25 WIB
ILO: Kesenjangan Angka Bekerja Berisiko Melebar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Kendati krisis keuangan 2008 telah berakhir yang dibuktikan dengan pemulihan ekonomi di negara maju, angka kesenjangan ketenagakerjaan dunia berpotensi melebar menjadi 75 juta orang pada 2018.

Guy Ryder, Direktur Umum International Labor Organization (ILO) mengatakan ancaman kesenjangan pekerjaan pada krisis keuangan yang lalu belum berakhir menyusul ketidakmampuan pertumbuhan ekonomi mencetak angka pekerjaan yang dibutuhkan.  

“Jika tren pertumbuhan angka bekerja berlanjut masih sama seperti pra-krisis yaitu 62 juta wanita dan laki-laki bekerja pada tahun lalu, sedangkan angka pengangguran mencapai 202 juta, maka angka pengangguran akan bertambah signifikan,” tekannya di Washington, Jumat (11/4).

Dirinya menambahkan perekonomian global belum kembali pada kecepatan yang semula, sehingga permintaan atas pekerjaan baru masih lemah, bahkan pertumbuhan kenaikan upah belum terlihat signifikan. Belum lagi, pelemahan ekonomi dunia juga memperlambat kecepatan dalam mengurangi angka kemiskinan di dunia.

Data ILO menunjukkan jumlah pekerja yang berhasil keluar dari garis kemiskinan ekstrem hanya turun 2,7%, laju terlambat dalam pengurangan angka kemiskinan selama beberapa dekade.

 Tidak hanya itu, Ryder juga mengakui ketimpangan pendapatan juga melebar dan pangsa upah terhadap produk domestik bruto (PDB) juga merosot di beberapa negara, termasuk di negara maju yang pertumbuhan kenaikan upahnya jauh di bawah produktifitas.

Kecenderungan tersebut tersamarkan oleh tingginya utang rumah tangga sebelum krisis dan inovasi pasar keuangan yang tidak berkelanjutan. Permasalahan struktural jangka panjang ini kini membebani permintaan dan pemulihan ekonomi yang lambat.

“Ekonomi dunia harus menciptakan banyak pekerjaan, misalnya investasi infrastruktur, dukungan terhadap usaha mikro,  peningkatan kemampuan tenaga kerja, dan mengembalikan daya beli rumah tangga,” jelas Ryder.

Untuk itu, dirinya menyambut baik upaya para menteri keuangan yang tergabung dalam G20 untuk meningkatkan PDB dunia hingga 2% pada 5 tahun mendatang. Apalagi, komitmen G20 itu juga menutikberatkan pada penciptaan lapangan pekerjaan sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja ilo krisis keuangan
Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top